IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 12 Maret 2026, berpotensi bergerak melemah seiring volatilitas harga minyak mentah di tingkat global. Meski dibuka menguat di 9,45 poin atau 0,13 persen ke posisi 7.398,85, sentimen negatif dari lonjakan harga energi dan kondisi pasar internasional membayangi performa indeks.
Analisis Kiwoom Sekuritas: IHSG Cenderung Sideways
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai IHSG berpotensi bergerak sideways menjelang libur panjang Idul Fitri. "Kiwoom Research melihat IHSG susah naik tinggi menjelang libur panjang Idul Fitri pekan depan, sehingga proyeksi terbaik saat ini adalah sideways sambil pertahankan area support kritikal 7.335-7.120 jangan sampai tertembus lagi," tuturnya dalam kajiannya di Jakarta, seperti dilansir Antara.
Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Konflik di Selat Hormuz
Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan signifikan, meskipun International Energy Agency (IEA) telah melepaskan cadangan darurat terbesar dalam sejarah sebesar 400 juta barel. Berdasarkan data perdagangan pukul 09.35 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat 7,95 persen menjadi 94,19 dolar AS per barel, sementara minyak Brent naik 8,01 persen ke level 99,35 dolar AS per barel.
Serangan terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global. Iran bahkan memperingatkan harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel apabila konflik di kawasan tersebut terus meningkat.
Sentimen dari Inflasi AS dan Defisit APBN Indonesia
Dari Amerika Serikat, data inflasi CPI AS Februari mengalami kenaikan 0,3 persen month to month (mtm) dan 2,4 persen year on year (yoy). Namun, data tersebut belum mencerminkan lonjakan harga energi terbaru, sehingga pasar mulai memperkirakan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di dalam negeri, defisit APBN hingga Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap PDB. Kondisi ini dinilai masih sesuai dengan desain APBN, karena realisasi belanja dipercepat secara merata sepanjang tahun, meski pendapatan negara mencatatkan kinerja positif dan pembiayaan anggaran turun sekitar 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perkembangan Terkait Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Komisi XI DPR RI telah memilih Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk masa jabatan 2026–2031. Komisi tersebut juga menetapkan empat pejabat lain sebagai anggota Dewan Komisioner OJK, yakni Hermawan Bekti Sasongko, Hasan Fawzi, Dicky Kartikoyono, dan Adi Busiarso. Keputusan ini disahkan dalam Sidang Paripurna DPR pada 12 Maret 2026.
Pergerakan Bursa Saham Global yang Bervariasi
Pada perdagangan Rabu (11/03), bursa saham Eropa serempak melemah, dengan Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,56 persen, DAX Jerman melemah 1,37 persen, dan CAC Prancis melemah 0,19 persen. Di Wall Street, bursa AS bergerak variatif: S&P 500 melemah 0,1 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,6 persen, sementara Nasdaq Composite menguat 0,1 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini juga menunjukkan pergerakan beragam:
- Indeks Nikkei melemah 821,29 poin atau 1,49 persen ke 54.204,10.
- Indeks Shanghai menguat 4,20 poin atau 0,10 persen ke 4.137,54.
- Indeks Hang Seng melemah 206,50 poin atau 0,80 persen ke 25.692,31.
- Indeks Strait Times melemah 15,33 poin atau 0,32 persen ke 4.848,50.
Dengan berbagai faktor ini, IHSG tetap berada di bawah tekanan, menutup pada level 7.220,88, dan investor disarankan untuk waspada terhadap perkembangan lebih lanjut di pasar global dan domestik.
