Kementan Targetkan Investasi 200 Ribu Sapi di Kalteng untuk Perkuat Swasembada Daging
Kementerian Pertanian (Kementan) tengah membidik investasi besar-besaran dalam sektor peternakan sapi di Kalimantan Tengah, dengan target populasi mencapai 200 ribu ekor. Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, khususnya dalam upaya mencapai swasembada daging dan susu secara berkelanjutan.
Strategi Nasional untuk Ketahanan Pangan
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa investasi ini dirancang untuk mengakselerasi pembangunan sentra peternakan modern berbasis kemitraan. "Indonesia ini negeri agraris dengan tanah luas dan sumber daya melimpah. Kunci keberhasilannya terletak pada pengelolaan yang baik dan kenyamanan investor," ujar Amran dalam keterangan resmi yang dikutip dari Antara, Rabu (18/02/2026).
Ia menjelaskan bahwa target 200 ribu ekor sapi tersebut terbagi menjadi dua bagian: 100 ribu ekor untuk pengembangan inti dan 100 ribu ekor untuk plasma. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan menyederhanakan regulasi dan memberikan kepastian usaha, sehingga pelaku usaha dapat fokus pada ekspansi populasi ternak dan hilirisasi produk.
Kalteng sebagai Kawasan Industri Sapi Terpadu
Pengembangan akan terkonsentrasi di Kabupaten Sukarama, Kalimantan Tengah, yang disiapkan sebagai sentra peternakan sapi terintegrasi skala besar. Kawasan ini akan memanfaatkan lahan seluas sekitar 40.006 hektare, dengan populasi awal kurang dari 1.000 ekor yang ditargetkan berkembang hingga 200.000 indukan produktif.
Konsep Integrated Cattle Industry yang dijalankan menggabungkan sapi potong, sapi perah, dan industri pengolahan dalam satu kawasan. Model ini diperkuat dengan sistem pertanian terpadu yang melibatkan kelapa sawit, di mana penggembalaan dilakukan di area perkebunan untuk efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik. "Dengan kolaborasi pemerintah dan swasta, kita bangun kawasan produksi yang modern, efisien, dan berorientasi jangka panjang," tambah Amran.
Skema Inti-Plasma dan Dukungan Pembiayaan
Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan menerapkan pola kemitraan inti-plasma, di mana perusahaan besar berperan sebagai inti yang bermitra dengan peternak rakyat sebagai plasma. Untuk mendukung skema ini, pemerintah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian serta fasilitas asuransi untuk meminimalkan risiko usaha.
"Jika dikelola bersama, inti kuat dan plasma tumbuh, maka ekonomi bergerak. Negara hadir dengan pembiayaan dan perlindungan agar pengusaha berkembang dan masyarakat sejahtera," tegas Amran. Melalui investasi ini, Kementan menargetkan peningkatan populasi indukan produktif, penguatan produksi daging dan susu, penyerapan tenaga kerja lokal, serta dorongan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.
Dengan langkah strategis ini, diharapkan Indonesia dapat mempercepat swasembada daging dan susu, memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal, serta menciptakan ekosistem peternakan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi semua pihak.



