Pemprov Jateng Gelar 308 Kali Gerakan Pangan Murah hingga Maret 2026 untuk Stabilkan Harga
Jateng Gelar 308 Gerakan Pangan Murah hingga Maret 2026

Pemprov Jateng Gelar 308 Kali Gerakan Pangan Murah hingga Maret 2026 untuk Stabilkan Harga

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah berencana menggelar sebanyak 308 kali gerakan pangan murah (GPM) hingga Maret 2026. Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok penting, terutama dalam menghadapi periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 yang akan datang.

Jadwal dan Lokasi Pelaksanaan

Gerakan pangan murah akan diselenggarakan di seluruh daerah di Jawa Tengah, bekerja sama erat dengan pemerintah kabupaten dan kota. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan hal ini saat meninjau langsung kegiatan GPM di Halaman Kantor TVRI Jawa Tengah. "Kita sudah punya jadwal untuk kegiatan gerakan pangan murah ini," kata Luthfi dalam keterangan tertulis pada Jumat, 13 Februari 2026.

Program ini dimulai di daerah Pucang Gading, Mranggen, Demak, yang dipilih karena lokasinya yang strategis sebagai daerah perbatasan dengan Kota Semarang. Luthfi juga menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat setempat yang sangat mendukung kegiatan ini.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kondisi Pangan dan Kenaikan Harga

Secara umum, ketersediaan pangan pokok strategis di Jawa Tengah berada dalam kondisi surplus. Namun, pada awal Februari 2026, terindikasi adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas, terutama yang menjelang Ramadan. Beberapa bahan pokok yang mengalami peningkatan harga antara lain:

  • Cabai: naik sekitar 35,7% dari Harga Acuan Pembelian (HAP) menjadi Rp 77.800 per kilogram.
  • Minyak Kita: naik 3,4% dari Harga Acuan Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter menjadi Rp 16.300 per liter.
  • Daging kerbau beku: naik 38,4% dari Harga Pokok Penjualan (HPP) Rp 80.000 per kilogram menjadi Rp 110.000 per kilogram.
  • Jagung untuk peternak ayam petelur: naik 7,4% dari HPP Rp 5.500 per kilogram menjadi Rp 6.250 per kilogram.

"Ada kenaikan tapi belum signifikan, kecuali cabai yang hampir mendekati angka Rp 80 ribu. JTAB sudah kita perintahkan untuk melakukan penetrasi harga di seluruh pasar," jelas Luthfi. Oleh karena itu, GPM menjadi langkah strategis untuk mengendalikan harga bahan pokok agar tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat.

Pelaku Usaha dan Langkah Tambahan

Dalam kegiatan GPM di Pucang Gading, setidaknya terdapat 11 pelaku usaha yang terlibat, termasuk kelembagaan seperti Bulog, RNI, PPI, JTAB, serta berbagai UMKM dan kelompok tani. Selain GPM, langkah strategis lain yang diambil adalah penyisiran oleh Satgas Pangan Jawa Tengah untuk mengantisipasi spekulan. "Harus kita sisir, mulai dari hilirisasi petani, distributor, sampah ke tempat penjualan dan konsumen," tutur Luthfi.

Respons Positif dari Masyarakat

Salah seorang warga Pucang Gading, Nuraini, mengungkapkan kegembiraannya atas adanya gerakan pangan murah ini. Dia merasa sangat terbantu karena harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan pasar biasa. "Ini ada beras, telur, cabai. Cabai ini jauh lebih murah, segini kalau di pasar hampir Rp 100 ribu, di sini cuma Rp 65 ribu. Minyak juga lebih murah," ujarnya. Nuraini berharap kegiatan serupa dapat lebih sering diselenggarakan di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga