Semangat Tak Padam: Ibu Korban Banjir Tapteng Jual Kue Demi Baju Lebaran Anak
Ibu Korban Banjir Tapteng Jual Kue Demi Baju Lebaran Anak

Semangat Tak Padam: Ibu Korban Banjir Tapteng Jual Kue Demi Baju Lebaran Anak

Di tengah puing-puing banjir yang melanda Tukka, Tapanuli Tengah (Tapteng), semangat seorang ibu tak pernah padam. Sri Kasnita Tambunan, warga Kelurahan Bona Lumban, Kecamatan Tukka, dengan gigih membuka pemesanan kue kering menjelang hari raya Idul Fitri atau Lebaran 2026. Tujuannya sederhana namun penuh makna: agar anak-anaknya bisa memakai baju baru saat perayaan suci tersebut.

Perjuangan di Tengah Ketidakpastian

Meski khawatir akan banjir susulan, Sri tetap berupaya mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarga menjelang Lebaran. "Karena mata pencaharian suami belum bisa jalan, baju Lebaran juga belum ada khususnya untuk anak-anak. Biar gimana pun, anak-anak juga ingin kita belikan baju baru di Hari Raya nanti," ujar Sri dengan suara penuh harap. Dia memiliki dua orang anak dan orang tua yang harus dibiayai, serta harus membantu perekonomian suaminya yang masih bekerja serabutan usai banjir bandang terjadi pada akhir November 2025.

Suami Sri, yang sebelumnya bekerja sebagai teknisi mesin pendingin untuk sebuah merek minuman bersoda, kini kehilangan pemasukan tetap akibat bencana tersebut. Hal ini mendorong Sri untuk mengandalkan keterampilannya dalam membuat kue kering, yang selama ini dijual ke tetangga sekitar.

Produksi Kue dengan Hati-hati

Sri sudah terbiasa memproduksi berbagai jenis kue kering, seperti chocho chips, nastar, kembang goyang, dan akar kelapa yang menjadi andalannya. Namun, kondisi tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. "Pesanan banyak, tahun ini. Tapi aku kurangi sedikit karena cuaca juga kan. Kalau sudah mendung dan hujan, pasti kamu tidak bikin kue karena kita harus mengemas barang-barang khawatir banjir susulan datang lagi," jelasnya dengan nada waspada.

Dia memproduksi kue di dapur rumahnya dengan satu oven berukuran sedang, dan pesanan setiap menjelang Lebaran bisa mencapai ratusan toples. Sejauh ini, Sri telah menghabiskan 18 kg tepung untuk membuat empat sampai lima jenis kue kering. Harga kue yang diproduksinya berkisar dari Rp 80 ribu hingga Rp 160 ribu per kilogram, dengan pesanan tahun ini mencapai 8 kg.

Dampak Positif bagi Lingkungan

Usaha Sri ini tidak hanya membantu keluarganya, tetapi juga membuka lapangan kerja untuk saudaranya. Sariani Tambunan, yang membantu Sri dalam produksi kue, merasa terbantu dengan keberanian Sri untuk tetap membuka pesanan. "Membantu ini, kita juga kan jadi ada pemasukan buat setidaknya sehari-hari lah, dan tabungan buat Lebaran nanti," kata Sariani, yang juga korban banjir.

Kondisi rumah Sri sendiri masih belum pulih total usai banjir, dengan bekas air banjir masih terlihat di atap dan tembok rumahnya. Namun, semangatnya untuk memberikan kebahagiaan kecil bagi anak-anaknya di hari Lebaran terus menyala, menjadi inspirasi bagi banyak orang di tengah kesulitan.