Operasi Gabungan Tangkap 41 Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng Jakarta
Operasi Tangkap 41 Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng Jakarta

Operasi Gabungan Tangkap 41 Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng Jakarta

Fenomena perburuan ikan sapu-sapu di sejumlah aliran sungai di wilayah Jakarta semakin menarik perhatian publik. Ikan sapu-sapu yang banyak ditemukan di Kali Ciliwung hingga kawasan perairan dan waduk di wilayah penyangga ibu kota, telah memicu aksi penangkapan secara besar-besaran oleh petugas maupun warga setempat.

Operasi Penangkapan oleh Dinas KPKP DKI dan Gulkarmat

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta bekerja sama dengan Gulkarmat Jakarta Pusat telah melaksanakan operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, tepatnya di depan Plaza Indonesia, Menteng. Sebanyak 100 personel gabungan dikerahkan dalam operasi ini untuk menangani masalah ikan invasif yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam operasi tersebut, petugas berhasil menangkap 41 ekor ikan sapu-sapu berukuran besar yang selama ini dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem sungai. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menegaskan bahwa penangkapan ini dilakukan sebagai upaya memberantas ikan invasif yang berpotensi merusak lingkungan perairan lokal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mengenal Ikan Sapu-sapu dan Ancaman Ekologisnya

Ikan sapu-sapu dikenal sebagai ikan air tawar dengan nama ilmiah suckermouth catfish atau pleco. Menurut dokumen US Fish and Wildlife Service, ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk spesies invasif yang dapat menyebar dengan cepat di perairan baru. Ciri khas ikan sapu-sapu adalah tubuh keras seperti pelat, mulut berbentuk pengisap, serta kemampuan bertahan di lingkungan air yang kotor atau minim oksigen.

Kemampuan adaptasi yang tinggi membuat ikan ini mudah berkembang biak di berbagai perairan, termasuk sungai dan waduk di Indonesia. Spesies ini juga dikenal mampu menggali dasar sungai untuk membuat sarang, yang dalam jangka panjang dapat merusak struktur tebing dan sedimentasi perairan.

Alasan Ikan Sapu-sapu Dianggap sebagai Hama

Berdasarkan informasi dari Badan Karantina Indonesia (Barantin), ikan sapu-sapu termasuk spesies asing yang berpotensi merusak ekosistem perairan lokal. Barantin bahkan pernah melakukan pemusnahan ikan sapu-sapu sebagai langkah melindungi ekosistem dari spesies invasif. Spesies invasif ini dapat mengganggu keseimbangan lingkungan karena bersaing dengan ikan lokal dalam hal makanan dan habitat.

Jika populasinya tidak terkendali, ikan lokal bisa terancam berkurang secara signifikan. Selain itu, ikan sapu-sapu hampir tidak memiliki predator alami di perairan Indonesia, sehingga populasinya meningkat pesat dan mendominasi ekosistem sungai.

Dampak Populasi Ikan Sapu-sapu pada Ekosistem Sungai

Menurut US Fish and Wildlife Service, ikan sapu-sapu dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius karena kebiasaan menggali sarang di tepi sungai dan dasar perairan. Aktivitas ini berpotensi mempercepat erosi dan merusak habitat ikan lain yang lebih rentan. Populasi yang terlalu banyak juga dapat mengganggu rantai makanan di perairan.

Ikan sapu-sapu mengonsumsi berbagai sumber makanan yang seharusnya menjadi bagian dari ekosistem alami, sehingga ikan lokal kesulitan bertahan dan berkembang biak. Upaya penangkapan dan pengendalian populasi yang dilakukan oleh Dinas KPKP DKI dan Gulkarmat Jakarta Pusat merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah dampak yang lebih luas pada ekosistem sungai di Jakarta dan daerah sekitarnya.

Keberadaan ikan sapu-sapu yang semakin melimpah di perairan Jakarta telah memunculkan kekhawatiran terhadap keseimbangan ekosistem. Operasi penangkapan seperti yang dilakukan di Kali Cideng menjadi upaya nyata untuk mengendalikan populasi ikan invasif ini dan melindungi keanekaragaman hayati perairan lokal.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga