KOMPAS.com – Situasi di jalur perdagangan maritim strategis, Selat Hormuz, dilaporkan masih sangat sepi dan belum menunjukkan tanda-tanda aktivitas normal pada Senin (15/6/2026) pagi. Kondisi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir empat bulan.
Data Pelacakan Kapal
Berdasarkan data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic, satu-satunya armada yang terpantau bergerak di Selat Hormuz pada Senin pagi hanyalah sebuah kapal patroli. Sementara itu, ratusan kapal komersial lainnya dilaporkan masih terdampar dan tertahan di kawasan tersebut.
Para analis maritim memperkirakan butuh waktu beberapa hari hingga aktivitas pelayaran kembali normal. Banyak kapal tanker dan kargo menunggu konfirmasi keamanan dari otoritas setempat sebelum melanjutkan perjalanan. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20 persen minyak dunia.
Kesepakatan damai antara AS dan Iran dicapai setelah negosiasi intensif yang difasilitasi oleh mediator internasional. Namun, pemulihan kepercayaan di kalangan pelaku industri pelayaran diperkirakan memerlukan waktu lebih lama. Beberapa perusahaan pelayaran besar telah mengumumkan akan tetap mengalihkan rute mereka melalui jalur alternatif hingga situasi benar-benar aman.



