Setelah beberapa hari penuh ketidakpastian, lalu lintas maritim di Selat Hormuz dilaporkan kembali mengalir pada Senin (22/6/2026). Kapal-kapal dagang dan tanker minyak kini mulai bergerak melewati rute perairan vital di Timur Tengah tersebut, meskipun sebelumnya ancaman penutupan oleh pihak Iran sempat membayangi.
Kronologi Penutupan dan Pembukaan Selat Hormuz
Pola ketidakpastian ini kembali berulang setelah Selat Hormuz sempat dinyatakan terbuka untuk lalu lintas pelayaran pada 18 Juni 2026, menyusul penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Israel. Namun, dua hari kemudian, Iran justru mendeklarasikan penutupan kembali jalur tersebut akibat pemboman Israel di Lebanon yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata, dikutip dari Al Jazeera, Senin.
Dampak terhadap Pelayaran Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, yang dilalui sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global. Penutupan, meskipun singkat, telah menimbulkan kekhawatiran di pasar energi dan industri pelayaran. Menurut analis maritim, setiap gangguan di selat ini dapat memicu lonjakan harga minyak dan biaya pengiriman.
Para pemilik kapal sebelumnya dilaporkan kebingungan menghadapi situasi yang berubah-ubah. Beberapa kapal memilih untuk menunggu di perairan internasional sementara yang lain mencari rute alternatif, meskipun lebih panjang dan mahal.
Reaksi Pemerintah dan Pelaku Industri
Pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, sumber dari Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan stabilitas regional dan kebutuhan ekonomi.
Seorang juru bicara Asosiasi Pemilik Kapal Internasional menyatakan, "Kami lega lalu lintas kembali normal, tetapi situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok global. Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati hukum maritim internasional."
Prospek ke Depan
Meskipun saat ini Selat Hormuz kembali terbuka, para pengamat memperingatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih tinggi. Setiap insiden baru dapat memicu penutupan kembali, yang akan berdampak serius pada perekonomian global. Negara-negara konsumen minyak utama, termasuk AS dan Tiongkok, diharapkan terus memantau situasi dan mendorong dialog diplomatik.



