DLH Kota Palu Targetkan Ruang Terbuka Hijau 30 Persen, Realisasi Bertahap Dimulai 2026
RTH Kota Palu 30 Persen, Realisasi Bertahap Mulai 2026

DLH Kota Palu Targetkan Ruang Terbuka Hijau 30 Persen, Realisasi Bertahap Dimulai 2026

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu menyatakan bahwa realisasi pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 30 persen di ibu kota Sulawesi Tengah akan dilaksanakan secara bertahap, dengan tahapan awal dimulai pada tahun 2026. Komitmen ini sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mewajibkan ketersediaan RTH di kawasan perkotaan.

Komitmen Menuju Kota Hijau

Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir, menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Palu selama 20 tahun. "Pembangunan berbasis lingkungan merupakan komitmen pemkot, maka pemenuhan RTH salah satu prioritas ke depan sebagai mana target menuju kota hijau," ujar Ibnu, seperti dikutip dari Antara pada Selasa, 14 April 2026.

Pemerintah Kota Palu menargetkan transformasi menjadi kota hijau atau green city, dengan proporsi ketersediaan ruang terbuka hijau sebagai indikator utama. Target ini tidak hanya bersifat estetika, tetapi juga mendukung keseimbangan ekologis dan kualitas hidup masyarakat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data Luas RTH Saat Ini dan Komposisinya

Berdasarkan data terbaru dari DLH Kota Palu, luas RTH di wilayah tersebut saat ini mencapai 3.006,81 hektare, atau sekitar 18,48 persen dari total luas wilayah Kota Palu yang seluas 395,06 kilometer persegi. Capaian ini masih berada di bawah target nasional sebesar 30 persen, sehingga pemerintah daerah terus melakukan percepatan dengan berbagai langkah strategis.

Komposisi RTH yang sudah tersedia meliputi:

  • Taman dan lapangan olahraga skala lingkungan seluas 71,92 hektare.
  • Arboretum seluas 103,26 hektare.
  • Kawasan pemakaman umum dan taman makam pahlawan seluas 48,36 hektare.
  • Kawasan penyangga atau green belt hutan yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan luas mencapai 1.416,06 hektare, menjadi kontributor terbesar.
  • Memorial park bencana alam 2018 di zona potensi likuefaksi, yang juga berfungsi sebagai ruang evakuasi, seluas sekitar 744,97 hektare.
  • Daerah penyangga Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) seluas 255,57 hektare.
  • Jalur hijau pada sejumlah ruas jalan di Kota Palu mencapai 1,34 hektare.

Fungsi Strategis dan Tantangan Implementasi

Keberadaan RTH tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, meningkatkan kualitas udara, dan menjadi ruang interaksi sosial masyarakat. "Keberadaan RTH tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika kota, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, meningkatkan kualitas udara, maupun menjadi ruang interaksi sosial masyarakat," jelas Ibnu.

Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah arus urbanisasi yang kuat, yang menyebabkan peralihan atau konversi lahan dari lahan konservasi menjadi lahan budi daya terjadi cukup cepat. Oleh karena itu, DLH Kota Palu konsisten menjaga tata ruang, khususnya menekan alih fungsi lahan untuk kepentingan komersil, pengembangan perumahan, dan kegiatan lainnya.

Pengawasan Ketat dan Peran Masyarakat

DLH Kota Palu terus melakukan pengawasan terhadap setiap proses perizinan pembangunan, khususnya dalam penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Pengawasan ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang, di mana setiap bangunan privat maupun rumah warga diwajibkan menyediakan minimal 10 persen dari luas lahannya sebagai ruang terbuka hijau.

"Menurut kami langkah ini penting untuk memastikan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat dan sektor swasta, dalam mendukung peningkatan luasan RTH di Kota Palu," tegas Ibnu. Dengan pendekatan bertahap mulai 2026, diharapkan target 30 persen RTH dapat tercapai, mendukung visi Kota Palu sebagai kota hijau yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga