Menembus Medan Berat Demi Kurban Warga Kepulauan Maluku
Menembus Medan Berat Demi Kurban Warga Kepulauan

Bumi Seribu Pulau. Begitulah julukan yang melekat pada Maluku. Wilayah timur Indonesia ini memang didominasi perairan, dengan lebih dari seribu gugusan pulau kecil yang tersebar. Tak heran jika antar dusun dalam satu desa saja bisa berbeda pulau.

Ikan Menu Sehari-hari, Daging Sebagai Kemewahan

Sebagai wilayah kepulauan, ikan segar dan hasil laut lainnya bukanlah barang mahal di Maluku. Meskipun mudah didapat, kualitasnya tetap terjaga. Ikan menjadi menu andalan bagi warga kepulauan dengan ekonomi pas-pasan. Cukup berjalan kaki beberapa meter dari rumah, memancing, dan hidangan pun siap. Sementara itu, lauk ayam atau daging hanya dikonsumsi pada waktu tertentu, itupun jika ada uang untuk membeli. Jika tidak, mereka tidak memaksakan diri, karena menyantap daging dan ayam adalah suatu kemewahan.

"Untuk makan daging atau ayam, kami harus ke pasar. Butuh uang lebih untuk pergi ke pasar. Kalau kami memotong ternak? Kami bukan untung," cerita Ibu Ani saat ditemui di Dusun Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, Jumat (29/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kisah Ibu Ani hampir sama dengan warga kepulauan lainnya di Maluku. Kondisi ini menggugah hati. Melalui dana kurban yang dihimpun dari masyarakat, sejumlah pulau terpencil di Maluku bergembira di Idul Adha tahun ini. Mereka menerima bantuan hewan kurban dari Dompet Dhuafa. Total ada tujuh daerah di Maluku dengan jumlah hewan 108 sapi dan 10 kambing.

"Alhamdulillah jumlah hewan kurban dan jumlah penerima meningkat," kata La Januri, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Maluku.

Perjuangan Menyalurkan Daging Kurban

Jurnalis Liputan6.com mendapat kesempatan menyaksikan beratnya medan yang dihadapi untuk menyalurkan hewan kurban. Ada empat wilayah yang didatangi: Desa Wabloi dan Dusun Wamana Baru di Pulau Buru, Pulau Tiga, serta Desa Sepa di Kabupaten Maluku Tengah. Jumlah hewan kurban yang disalurkan adalah lima sapi di Pulau Buru, tiga ekor di Pulau Tiga, dan tiga ekor di Desa Sepa.

Dari empat wilayah yang dikunjungi, tantangan yang dihadapi tidak main-main. Tim penyalur harus menempuh perjalanan darat dan laut berjam-jam antar pulau. Saat menuju Pulau Buru, tim harus menempuh perjalanan delapan jam lebih, menyeberangi sungai dengan rakit, dan bermalam di rumah warga yang minim pencahayaan serta jaringan telekomunikasi. Saat mengunjungi desa pedalaman Wabloi, diperlukan perjalanan dua jam lebih menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi dari pusat kota Ambon, melewati jalur menanjak dan menurun. Tim juga harus menyeberangi perairan Maluku Tengah dengan perahu motor untuk sampai ke Pulau Tiga setelah perjalanan tiga jam dari Ambon ke Desa Ureng. Khusus di Pulau Tiga, sapi sumbangan dikirim langsung melalui jalan darat dari Ambon, lalu diseberangkan dengan perahu motor.

"Ketibaan sapi-sapi itu disambut warga Pulau Tiga dengan suka cita," ujar Januri.

Penyaluran ke Desa Sepa, Masohi, Maluku Tengah juga tak kalah menantang. Tim harus menyeberang dari Ambon ke Desa Sepa dengan kapal cepat selama dua jam, menghadapi ombak sangat kencang yang membuat perut mual. Namun, semua perjuangan itu terbayar oleh senyum tulus warga penerima hewan kurban yang tampak begitu antusias.

Pria yang akrab disapa Jai ini mengatakan, banyak warga tidak mampu membeli daging sapi untuk santapan sehari-hari karena harganya tidak sesuai dengan penghasilan harian. Oleh karena itu, makan daging sapi adalah kemewahan yang tak tergantikan. Sebuah kebahagiaan sederhana bagi masyarakat kepulauan Maluku.

"Sebenarnya ini belum ideal. Banyak daerah belum terjangkau. Tapi kami berkomitmen, setiap tahun jumlah hewan kurban bertambah dan penerima manfaat lebih banyak," tutup Januri tersenyum.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga