Potensi Mangrove Bintan Dikembangkan Jadi Kawasan Budidaya dan Wisata Berkelanjutan
Kawasan mangrove Bintan yang terletak di pesisir Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, kini mulai dilirik sebagai lokasi strategis untuk pengembangan kawasan budidaya sekaligus wisata yang berkelanjutan. Potensi besar ekosistem ini menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pecinta mangrove asal Jepang, Naoto Akune, yang memperkenalkan konsep budidaya perikanan berbasis silvofishery.
Konsep Silvofishery: Integrasi Ekologi dan Ekonomi
Naoto Akune, dalam kunjungannya ke Bintan sebagai bagian dari kegiatan penanaman mangrove bersama Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) untuk memperingati Hari Pers Nasional 2026, menjelaskan bahwa silvofishery adalah metode tradisional yang terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Metode ini dikenal sebagai pendekatan ramah lingkungan yang memadukan pelestarian hutan bakau dengan aktivitas ekonomi perikanan produktif.
Dalam konsep yang ditawarkannya, tata ruang lahan diatur secara proporsional: sekitar 60 hingga 80 persen area tetap dijaga sebagai hutan mangrove alami, sedangkan 20 hingga 40 persen sisanya dimanfaatkan menjadi kolam atau parit untuk budidaya komoditas seperti ikan, udang, atau kepiting. Integrasi ini menciptakan simbiosis mutualisme antara alam dan ekonomi.
"Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery," kata Akune di Bintan, dikutip dari Antara, Kamis 12 Februari 2026. Ia menekankan bahwa mangrove memiliki fungsi vital sebagai biofilter alami yang mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan pesisir dari abrasi. Dengan ekosistem yang terjaga, ketergantungan pada bahan kimia dapat dikurangi drastis.
Dukungan Komunitas dan Potensi Transformasi
Respons positif terhadap konsep ini datang dari Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), Ady Indra Pawennari. Ia menilai bahwa penerapan silvofishery merupakan solusi paling tepat dan ideal untuk diterapkan di kawasan mangrove seperti Sungai Tiram. Wilayah ini dinilai memiliki karakteristik yang mendukung potensi ganda, yakni pelestarian ekologis dan keuntungan ekonomis secara bersamaan.
Ady merujuk pada keberhasilan implementasi sistem serupa yang telah berkembang pesat di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Di daerah-daerah tersebut, metode ini terbukti tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi tinggi bagi pembudidaya, tetapi juga efektif dalam menjaga kelestarian vegetasi mangrove dari ancaman kerusakan lingkungan.
"Sungai Tiram dapat menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepri, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari upaya pelestarian lingkungan," ujarnya. Hal ini penting agar masyarakat pesisir tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif yang mendapatkan kesejahteraan dari lingkungan sekitarnya.
Inovasi Wisata Menanam Mangrove
Seirama dengan upaya pengembangan budidaya, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri turut mengembangkan inisiatif pelestarian melalui program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove. Inisiatif ini bertujuan menggeser paradigma lama konservasi yang sekadar kegiatan seremonial penanaman pohon, menjadi atraksi wisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.
Kepala BPDAS Kepri, Haris Sofyan Hendriyanto, menjelaskan bahwa program ini adalah buah kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri. Tujuannya adalah menciptakan pengalaman wisata yang edukatif dan berdampak positif bagi alam.
"Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove," ujarnya. Saat ini, BPDAS telah memetakan sedikitnya sembilan lokasi pionir di Bintan, termasuk Pengudang, Gudi Farm, dan kawasan Pandang Tak Jemu, yang melibatkan komunitas lokal serta dukungan sektor perhotelan untuk promosi paket wisata.
Haris menekankan bahwa keunikan karakteristik Kepri harus dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan kehutanan. "Karakteristik Kepri ini unik, potensinya adalah wisatawan dan mangrove. Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal," ucap Haris.
Dengan kombinasi konsep silvofishery dan program wisata menanam, kawasan mangrove Bintan diharapkan dapat bertransformasi menjadi model percontohan nasional untuk pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, mendukung ekonomi lokal, dan melestarikan ekosistem pesisir untuk generasi mendatang.



