HPSN 2026: Kolaborasi Swasta-Pemerintah Dongkrak Pengelolaan Sampah di Cipinang Melayu
Data terbaru mengungkapkan kondisi memprihatinkan dalam pengelolaan sampah nasional. Berdasarkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka yang fantastis, yaitu 21,65 juta ton. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya sekitar 35 persen dari jumlah tersebut yang berhasil terkelola dengan baik. Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki hampir 17.000 unit bank sampah, meskipun tidak semuanya beroperasi aktif. Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah berbasis komunitas tidak hanya terletak pada ketersediaan infrastruktur, tetapi juga pada kapabilitas para pengelolanya.
Festival Bank Sampah sebagai Momentum Kolaborasi
Bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang mengusung tema 'Kolaborasi untuk Indonesia Bersih', Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) menyelenggarakan Festival Bank Sampah Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Acara ini dihadiri oleh perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLHK RI), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta berbagai komunitas dan penggiat lingkungan hidup.
Lucia Karina, Direktur Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. "Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang pemaparan capaian satu tahun program reaktivasi dan pendampingan intensif terhadap 12 Bank Sampah Unit di kelurahan tersebut," ujarnya melalui keterangan tertulis pada Jumat, 13 Februari 2026.
Pentingnya Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Rasio Ridho Sani, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK RI, menekankan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas merupakan bagian krusial dari upaya nasional. "Inisiatif ini penting untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam ekonomi sirkular," jelas Rasio.
Dia menambahkan, "Bank sampah memainkan peranan vital karena dapat membantu menyelesaikan persoalan di tingkat paling bawah. Kami sangat mengapresiasi peran aktif bank sampah di Cipinang Melayu dan komitmen CCEP Indonesia dalam mendukung pengembangan kapasitas mereka."
Program Pendampingan yang Komprehensif
Program pendampingan bank sampah oleh CCEP Indonesia di Kelurahan Cipinang Melayu telah berjalan sejak awal 2025. Program ini merupakan bagian dari implementasi strategi keberlanjutan 'This is Forward' yang berfokus pada penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan kemasan dan pemberdayaan masyarakat.
Karina memaparkan bahwa yang membedakan program ini adalah penekanan pada pengembangan kapabilitas pengurus. "Selain dukungan peralatan dan infrastruktur, kami menyelenggarakan enam sesi pelatihan yang mencakup:
- Manajemen operasional
- Digitalisasi pencatatan dan keuangan
- Teknik pengolahan sampah organik dan daur ulang
- Pembuatan produk bernilai jual dari material sampah
- Pemasaran dan pengemasan produk
Tujuannya agar bank sampah tidak hanya sebagai titik kumpul, tetapi mampu menjadi unit usaha sosial yang dikelola mandiri oleh masyarakat," jelas Karina.
Dukungan Infrastruktur dan Capaian Signifikan
Dari sisi infrastruktur, program ini menyediakan berbagai perangkat canggih seperti:
- Perangkat digital untuk pencatatan
- Timbangan digital
- Drop box PET
- Fasilitas pengolahan sampah organik termasuk maggot tower terintegrasi budidaya ikan lele
- Komposter
- Mesin untuk pelatihan daur ulang tutup botol plastik
Selama satu tahun pelaksanaan, program ini mencatat berbagai capaian yang mengesankan:
- Lebih dari seratus nasabah aktif baru bergabung dari 12 Bank Sampah Unit
- Total sampah yang berhasil dikelola mencapai lebih dari 80 ton, terdiri dari kertas, plastik, logam, organik, dan kaca
- 1,7 ton sampah organik berhasil dikelola dalam empat bulan terakhir
- Pengurus bank sampah mulai memproduksi barang bernilai jual seperti papan plastik daur ulang, lilin aromaterapi, pupuk cair, serta produk maggot dan kasgot
- Seluruh 12 Bank Sampah Unit kini telah menerapkan sistem pencatatan digital dalam operasi harian
Keberlanjutan dan Replikasi Program
Untuk menjaga keberlangsungan program setelah masa pendampingan selesai, telah terbentuk Paguyuban Garpu Basah (Gerakan Terpadu Bank Sampah Cipinang Melayu) sebagai wadah koordinasi antar 12 bank sampah yang dikelola langsung oleh pengurus dan masyarakat setempat.
Karina menutup dengan harapan, "Kami berharap praktik baik yang dikembangkan di Cipinang Melayu dapat direplikasi di wilayah lain. Inisiatif ini diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang menginspirasi lebih banyak wilayah untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas."
Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dengan pendampingan yang konsisten, bank sampah dapat berkembang dari sekadar titik kumpul menjadi pusat ekonomi sirkular yang memberdayakan masyarakat secara nyata.