DIY Dinobatkan sebagai Provinsi Pendorong Ekonomi Digital dalam Apresiasi Konektivitas Digital 2026
Dalam acara Apresiasi Konektivitas Digital 2026 yang diselenggarakan oleh Bakti Komdigi dan Detikcom, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil meraih predikat Provinsi Pendorong Ekonomi Digital. Penghargaan ini diberikan pada malam penganugerahan di Hotel Sultan, Jumat (17/4/2026), sebagai bentuk pengakuan atas peran nyata dalam memperkuat konektivitas dan literasi digital di tingkat daerah.
Pendekatan Unik Jogja Smart Province
DIY memiliki pendekatan yang unik dalam mendorong ekonomi digital melalui konsep Jogja Smart Province (JSP), yang mengawinkan teknologi modern dengan nilai-nilai budaya lokal. Visi Gubernur DIY adalah mewujudkan Pancamulia Masyarakat Jogja melalui Reformasi Kalurahan, Pemberdayaan Kawasan Selatan, serta Pembangunan Budaya Inovasi dan Pemanfaatan Teknologi.
JSP, yang berlandaskan Pergub DIY Nomor 32 Tahun 2024, menjadi rencana induk pengembangan ekosistem digital dengan enam dimensi: Smart Branding, Smart Government, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Dimensi-dimensi ini berbasis integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif.
Implementasi Kebijakan dan Dampak Positif
Implementasi kebijakan digital di DIY diwujudkan melalui berbagai inisiatif, seperti SiBakul Jogja sebagai market hub digital UMKM yang mencakup pendataan, klasterisasi, pembinaan, kurasi, pemasaran digital, serta subsidi ongkir. Selain itu, akses internet diberikan untuk klaster UMKM, UMKM difabel, dan tempat wisata, didukung oleh pendampingan e-bisnis dan literasi digital berkelanjutan.
Penguatan regulasi juga dilakukan melalui Perda dan Pergub terkait industri kreatif, kewirausahaan, TIK, SPBE, dan Pembinaan Usaha Kecil, serta pembentukan TP2DD untuk mendorong elektronifikasi transaksi. Secara kelembagaan, Diskominfo DIY menjadi leading sector, didukung oleh PLUT-KUMKM, kolaborasi komunitas dan perguruan tinggi, serta kerja sama dengan Bank Indonesia dan BPD DIY.
Prestasi dan Capaian Ekonomi Digital
DIY menempati peringkat ke-5 Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 dengan skor 51,13, melampaui rata-rata nasional 44,53. Hal ini didukung oleh infrastruktur digital yang kuat dengan skor 69,73 dan kompetensi digital masyarakat yang terus meningkat. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 5,49%, lebih tinggi dari rata-rata nasional dan Jawa, dengan kontribusi sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 0,64%.
Digitalisasi UMKM juga menunjukkan kemajuan signifikan, dengan 987.737 merchant QRIS (59% di antaranya usaha mikro) dan 980.591 pengguna. Nilai transaksi QRIS mencapai Rp41,09 triliun per September 2025, tumbuh 237,19% year-on-year. DIY juga menjadi pionir dalam penerapan QRIS TAP berbasis NFC pada Trans Jogja dan QRIS Andong Wisata di Malioboro, memperluas inklusi keuangan hingga sektor tradisional.
Keberlanjutan dan Pengembangan Ekosistem Digital
Keberlanjutan ekosistem digital DIY dijaga melalui pelembagaan SiBakul sebagai sistem berkelanjutan dengan layanan logistik gratis dan market hub digital. Program percepatan SPBE untuk tata kelola yang efisien dan transparan, serta perluasan infrastruktur fiber optic hingga desa/kalurahan dan sekolah melalui program Free Wi-Fi publik, turut mendukung keberlanjutan ini.
Pengembangan SDM dilakukan melalui pelatihan kolaboratif bersama Kementerian Komdigi, perguruan tinggi, komunitas startup, dan pelaku UMKM. Sinergi pentahelix dengan Bank Indonesia dan BPD DIY dalam program "Jogja QRIStimewa", serta kerja sama dengan Google, Shopee, dan Grab untuk pelatihan UMKM, memperkuat ekosistem digital dari hulu hingga hilir.
Tantangan dan Progres ke Depan
Meski menunjukkan perkembangan progresif, Jogja Smart Province masih menghadapi tantangan, terutama dalam aspek literasi digital. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap teknologi yang beragam menyebabkan adopsi inovasi digital belum merata. Upaya edukasi yang lebih spesifik dan berkelanjutan diperlukan untuk mendorong penggunaan teknologi, termasuk sistem pembayaran digital.
Kolaborasi multipihak juga menjadi kunci keberhasilan, mengingat kompleksitas persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata. Dengan fokus pada pengukuran dampak nyata dan umpan balik langsung dari masyarakat, DIY berkomitmen untuk terus mengoptimalkan program digitalnya guna mendukung kemandirian ekonomi dan penurunan angka kemiskinan.



