Sudah sangat banyak kajian ilmiah yang membahas topik pariwisata berkelanjutan. Sudah sangat banyak pakar dan ahli yang berulang kali mengingatkan tentang pentingnya memperhatikan daya dukung lingkungan. Sudah sangat banyak pula orang-orang pintar yang memberikan masukan berharga terkait tata ruang yang baik, pengelolaan sampah yang efektif, serta risiko nyata dari overtourism atau kelebihan kunjungan wisatawan.
Jangan Pernah Bosan untuk Mendengar dan Membaca
Jangan pernah merasa bosan untuk terus mendengar peringatan ini. Jangan pernah merasa bosan untuk terus membaca analisis yang ada. Sebab, ketika kita mulai menganggap semua kajian dan peringatan itu hanyalah sekadar wacana belaka, realitas di lapangan akan berbicara dengan suara yang jauh lebih keras dan jelas.
Bali yang kita cintai bersama kembali mengalami kebanjiran dalam kurun waktu yang berdekatan. Fenomena banjir, kemacetan lalu lintas yang semakin parah dari hari ke hari, kualitas udara yang terus menurun, serta tumpukan sampah yang tak kunjung menemukan solusi tuntas, semua itu menjadi potret kontras yang sangat menyedihkan dari narasi "sukses pariwisata" yang selama ini digaungkan.
Pertanyaan Mendasar tentang Keberlanjutan
Bali selama ini selalu dipuja dan diagungkan sebagai ikon destinasi unggulan Indonesia. Pulau dewata ini menjadi kebanggaan nasional. Namun, pertanyaan mendasarnya sangat sederhana: apakah keberhasilan pariwisata Bali itu sungguh-sungguh bersifat berkelanjutan?
Selama ini, indikator keberhasilan di sektor pariwisata kerap direduksi menjadi sekadar angka-angka statistik belaka. Fokus utama hanya pada jumlah kunjungan wisatawan asing dan domestik, tingkat okupansi atau keterisian kamar hotel, serta besaran devisa yang berhasil dihasilkan.
Padahal, berbagai kajian internasional yang sangat komprehensif, termasuk laporan penting dari OECD Tourism Trends and Policies dan panduan resmi dari UN Tourism, dengan tegas menegaskan bahwa aspek keberlanjutan merupakan inti sekaligus fondasi utama dari daya saing jangka panjang sebuah destinasi wisata.
Tanpa keberlanjutan, kesuksesan hari ini bisa berubah menjadi bencana esok hari. Lingkungan yang rusak, infrastruktur yang kewalahan, dan kualitas hidup masyarakat yang menurun adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.