Bangkai Paus Sperma di Pantai Kolaka Segera Ditarik ke Laut Lepas
Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Wilayah Kerja Sulawesi Tenggara akan segera melakukan evakuasi terhadap bangkai paus sperma yang terdampar di Pantai Desa Totobo, Kabupaten Kolaka. Proses ini dilakukan dengan cara menarik bangkai tersebut ke laut lepas untuk meminimalisasi dampak pencemaran udara di sekitar pemukiman warga.
Proses Evakuasi Menunggu Ketersediaan Kapal Besar
Penanggung Jawab BPSPL Wilayah Kerja Sultra, Jufri, menjelaskan bahwa rencana evakuasi saat ini masih menunggu ketersediaan armada kapal dengan kapasitas mesin besar. Mengingat bobot mamalia laut tersebut sangat besar, evakuasi tidak memungkinkan untuk dilakukan secara manual. "Rencananya bangkai paus tersebut akan ditarik ke tengah laut. Nanti di sana akan diikat menggunakan jangkar di area gusung yang dangkal agar tidak hanyut kembali ke daratan," kata Jufri seperti dilansir Antara.
Pihak BPSPL terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk pengadaan kapal penarik. Jika armada telah tersedia, bangkai paus akan segera dipindahkan agar proses penguraian secara alami terjadi di laut lepas. "Sudah dua hari bangkai paus ini berada di pantai. Seiring bertambahnya waktu, aroma busuk pasti mulai tercium. Evakuasi ke tengah laut adalah satu-satunya solusi untuk mengurangi bau yang sampai ke pemukiman," ujarnya.
Prioritas Utama: Percepatan Evakuasi untuk Kurangi Bau Busuk
Hingga kini, pihak berwenang terus memantau kondisi di Pantai Totobo sembari memastikan kesiapan teknis penarikan agar tidak menimbulkan kendala baru saat proses evakuasi berlangsung. Jufri menambahkan bahwa pihaknya tidak memiliki langkah mitigasi khusus untuk meredam bau selama bangkai masih berada di bibir pantai, sehingga percepatan evakuasi menjadi prioritas utama tim di lapangan.
Evakuasi bangkai paus sperma ini penting untuk mencegah potensi pencemaran lingkungan, terutama udara, yang dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga sekitar. Dengan ditarik ke laut lepas, bangkai akan terurai secara alami tanpa menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi masyarakat pesisir.



