WFH yang Dianggap Privilese Ternyata Picu Kelelahan dan Penurunan Produktivitas
Bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) sering kali dianggap sebagai sebuah privilese oleh banyak orang. Tidak ada kemacetan lalu lintas yang menyita waktu dan energi, tidak perlu berdandan formal dengan pakaian kantor, serta waktu kerja yang terasa jauh lebih fleksibel dibandingkan dengan rutinitas di kantor.
Kenyataan Pahit Setelah Berminggu-minggu
Namun, setelah dijalani selama berminggu-minggu, kenyataan pahit mulai muncul ke permukaan. Batasan yang jelas antara urusan kantor dan urusan personal perlahan-lahan mengabur, sehingga sulit untuk memisahkan waktu kerja dengan waktu istirahat atau keluarga.
Rasa jenuh dan bosan pun mulai memuncak karena kurangnya interaksi sosial langsung dengan rekan kerja, serta suasana lingkungan kerja yang monoton di rumah. Alih-alih meningkatkan efisiensi, produktivitas justru sering kali terjun bebas akibat gangguan dari lingkungan rumah dan kurangnya disiplin diri.
WFH Lebih Melelahkan daripada Bekerja di Kantor
Banyak pekerja yang akhirnya menyadari bahwa WFH sering kali terasa lebih melelahkan daripada bekerja di kantor. Tanpa struktur yang jelas dan pemisahan fisik antara ruang kerja dan ruang hidup, tekanan mental dan emosional justru meningkat.
Faktor-faktor seperti isolasi sosial, tuntutan multitasking antara pekerjaan dan tanggung jawab rumah, serta kurangnya batasan waktu kerja menjadi penyebab utama kelelahan ini. Burnout atau kelelahan kronis pun menjadi ancaman serius bagi mereka yang terus-menerus bekerja dari rumah tanpa strategi pengelolaan yang tepat.
Oleh karena itu, penting bagi perusahaan dan individu untuk mengembangkan pendekatan yang lebih seimbang dalam menerapkan WFH, dengan memperhatikan aspek kesejahteraan mental dan produktivitas jangka panjang.



