Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Mata uang Garuda ambles lebih dari 1 persen ke posisi Rp 17.668 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi hari, berdasarkan laporan Reuters.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Tren pelemahan ini terjadi di tengah rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Sebelum eskalasi perang Iran pecah, nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik sebenarnya sudah berada di bawah tekanan besar.
Pelemahan rupiah ini menjadi yang terburuk dalam sejarah, melampaui rekor-rekor sebelumnya. Para pelaku pasar khawatir dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, terutama terkait konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.
Dampak terhadap Pasar Keuangan
Anjloknya rupiah turut menekan IHSG yang juga mengalami penurunan signifikan. Investor asing cenderung menarik dana dari pasar saham Indonesia, memperburuk sentimen negatif. Sementara itu, harga minyak mentah yang melonjak menambah kekhawatiran akan inflasi dan beban impor energi.
Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar, namun tekanan eksternal yang kuat membuat upaya tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan.



