Lampung Bangun 13 Embung Pasca Banjir Bandang untuk Cegah Banjir Susulan
Lampung Bangun 13 Embung Pasca Banjir Bandang

Lampung Bangun 13 Embung Pasca Banjir Bandang untuk Cegah Banjir Susulan

Dinas Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung tengah membangun sebanyak 13 embung atau kolam retensi sebagai solusi strategis untuk mengatasi dan mencegah terulangnya bencana banjir di wilayah setempat. Pembangunan ini dilakukan sebagai respons langsung setelah banjir bandang melanda beberapa daerah di Lampung pada awal Maret 2026.

Koordinasi Intensif untuk Percepatan Pembangunan

Kepala Dinas PSDA Provinsi Lampung, Budi Darmawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung agar perbaikan dan pembangunan segera dilaksanakan. "Kami sudah berkoordinasi kepada BBWS Mesuji Sekampung untuk dilakukan perbaikan segera dalam waktu dekat, agar saat hujan deras kejadian banjir tidak terulang," tegas Budi pada Rabu (11/3/2026).

Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kota Bandarlampung beserta Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Lampung Selatan akan bekerja sama mendukung BBWS dalam menyusun masterplan banjir serta rencana penanganan jangka panjang dan pendek. "Dalam upaya pengendalian serta memberi solusi penanganan banjir, direncanakan akan ada pembangunan 13 titik embung ataupun kolam retensi di beberapa wilayah. Idealnya 13 embung ini harus dibuat," tambahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Banjir Bandang yang Melanda Lampung

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada Jumat 6 Maret 2026, Provinsi Lampung khususnya Kota Bandarlampung dan Kabupaten Lampung Selatan dilanda banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi sekitar pukul 15.00 WIB. Beberapa sungai meluap dan menggenangi permukiman warga.

Wilayah yang terdampak meliputi:

  • Kecamatan Jati Agung: Desa Way Huwi, Kelurahan Way Galih, Desa Karang Sari, Desa Gedung Harapan, Desa Karang Anyar, dan Desa Marga Agung.
  • Kota Bandarlampung: 13 kecamatan dengan sedikitnya 17 kelurahan terdampak, termasuk Sukarame, Tanjung Senang, Enggal, Tanjung Karang Barat, Way Halim, Rajabasa, dan lainnya.

Tragisnya, kejadian ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan satu orang terbawa arus. Melihat besarnya dampak, pembangunan kolam retensi kini menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Provinsi Lampung.

Lokasi dan Fungsi Strategis Embung yang Dibangun

Budi menjelaskan bahwa salah satu embung telah dibangun di daerah Kemiling, Kota Bandarlampung, yang menjadi bagian dari 13 embung yang direncanakan. "Embung yang baru dibangun di Kemiling itu menjadi bagian dari pembangunan 13 embung, dan kalau dilihat airnya cukup besar karena itu sebenarnya aliran dari berbagai daerah yang ditahan di embung, lalu air dilepas pelan-pelan ke bawah oleh karena itu di daerah bawah tidak banjir karena aliran air sudah tertampung di embung," paparnya.

Pembangunan embung selanjutnya akan direkomendasikan di daerah hulu, tepatnya di Kemiling dan sekitarnya, kemudian dilanjutkan ke daerah Batu Putu. Kolam retensi ini berfungsi untuk menahan laju aliran air dari hulu menuju hilir. Selain di daerah hulu, embung juga akan dibangun di daerah tengah, seperti di Tanjung Senang, Sukarame, dan Panjang Kota Bandarlampung serta sekitarnya yang terdampak banjir.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Aman

Budi berharap pembangunan embung di beberapa titik ini dapat efektif menahan volume air deras dari hulu ke hilir, sehingga mampu mengatasi banjir dan mencegah kejadian serupa terulang di masa depan. "Kalau ada lokasi yang dimanfaatkan untuk pembangunan ini tentu menjadi salah satu solusi mengatasi banjir. Sehingga ini akan melengkapi embung Kemiling yang sudah bangun. Paling tidak fungsinya bisa menahan serta mengurangi derasnya air dari hulu sampai hilir," pungkas Budi.

Dengan langkah proaktif ini, Dinas PSDA Lampung berkomitmen untuk memperkuat sistem pengelolaan air dan mitigasi bencana, demi melindungi masyarakat dari ancaman banjir susulan dan meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga