Pramono Anung Ingin Integrasikan JPO MH Thamrin dengan Gedung Sarinah, Terkendala Status Cagar Budaya
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan keinginannya untuk menghubungkan langsung Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Halte Transjakarta MH Thamrin dengan Gedung Sarinah. Rencana ini bertujuan meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan pejalan kaki di kawasan strategis Jakarta Pusat tersebut.
Kendala Utama: Status Cagar Budaya Sarinah
Sayangnya, rencana integrasi tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh status Gedung Sarinah sebagai bangunan cagar budaya, yang mengharuskan pelestarian nilai sejarah dan arsitektur aslinya. Pramono menjelaskan bahwa pihak pengelola Sarinah masih mempertahankan konsep bangunan eksisting, sehingga menolak koneksi langsung dengan JPO.
"Sebenarnya kami sudah menawarkan JPO ini masuk langsung ke Sarinah. Tetapi kan Sarinah ini heritage, cagar budaya. Sehingga mereka masih ingin mempertahankan itu," ujar Pramono saat meresmikan JPO Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Senin, 2 Maret 2026.
Upaya Pemprov DKI untuk Mencari Solusi
Meski menghadapi kendala, Pemprov DKI Jakarta tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan koneksi ini di masa depan. Pramono telah meminta jajaran internal, khususnya Asisten Pembangunan, untuk menjajaki kembali peluang kerja sama dengan pengelola Sarinah. Tujuannya adalah menemukan solusi yang menghormati status cagar budaya sekaligus meningkatkan konektivitas kawasan.
"Tetapi tadi saya diskusi dengan Pak Asisten Pembangunan untuk dijajaki kembali apakah mereka bersedia kalau kemudian ini kita teruskan sampai dengan masuk di Sarinah," kata Pramono menambahkan.
Manfaat Potensial Integrasi JPO dan Sarinah
Pramono menilai bahwa integrasi langsung antara JPO dan Gedung Sarinah akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi Sarinah, hal ini dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan aksesibilitas, sementara bagi publik, kenyamanan pejalan kaki di kawasan MH Thamrin akan lebih terjamin.
"Sebab kalau ini bisa masuk di Sarinah, bagi Sarinah juga menguntungkan," lanjutnya. Namun, desain JPO Sarinah yang telah direvitalisasi saat ini sengaja dibuat tanpa koneksi langsung ke gedung, mengikuti keinginan pengelola yang belum bersedia membuka diri.
Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk terus berkomunikasi dengan pengelola Sarinah guna mencari titik temu yang ideal, tanpa mengabaikan pentingnya pelestarian warisan budaya ibukota.
