Badan Administrasi Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA) merilis estimasi terbaru pada Senin (8/6/2026) yang menunjukkan peluang kemunculan El Nino pada Juni mencapai 82 persen. Peralihan menuju fase El Nino yang diperkirakan berpotensi memiliki intensitas kuat ini mulai menunjukkan sejumlah tanda.
Anomali Atmosfer Mulai Terbentuk
Dalam pembaruan datanya, NOAA menyebut adanya anomali atmosfer yang mulai terbentuk dan konsisten dengan transisi menuju El Nino. Salah satu indikasi yang terlihat adalah berkurangnya tutupan awan serta curah hujan di wilayah Indonesia, sebagaimana dikutip dari laman Gizmodo.
Fenomena ini menandakan bahwa sirkulasi atmosfer di Pasifik tropis mulai bergeser ke arah kondisi El Nino. Biasanya, El Nino ditandai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang memicu perubahan pola cuaca global.
Dampak bagi Indonesia: Periode Kering Lebih Panjang
Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa kawasan tropis, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami periode kering yang lebih panjang ketika fenomena El Nino kuat terjadi. Hal ini dapat meningkatkan risiko kekeringan, gagal panen, serta kebakaran hutan dan lahan.
Menurut data NOAA, probabilitas El Nino kuat meningkat seiring dengan anomali suhu laut yang terus menghangat. Jika prediksi ini terwujud, Indonesia perlu bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem dari biasanya.
Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif, seperti optimalisasi pengelolaan air, penyuluhan pertanian, dan kesiapsiagaan bencana.



