Ekonom Peringatkan Dampak Luas Kenaikan Harga Minyak Dunia di Atas 100 Dolar AS
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa kenaikan harga minyak dunia yang telah melewati level 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Menurut analisisnya, dampak ini tidak hanya terbatas pada sektor energi domestik, tetapi juga merembet ke berbagai aspek lain, termasuk pangan, transportasi, dan bahkan stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dampak Menyeluruh pada Berbagai Sektor
Dalam keterangannya kepada media pada Senin, 9 Maret 2026, Bhima menjelaskan bahwa hampir semua sektor ekonomi akan terdampak akibat peningkatan beban biaya produksi dan distribusi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak ini. Sektor-sektor yang disebutkan secara khusus meliputi industri pengolahan, jasa ojek online (ojol), perdagangan kendaraan bermotor seperti mobil dan motor, toko ritel, serta pariwisata. Ia menekankan bahwa efeknya akan terasa secara kompak dan simultan, mengingat ketergantungan yang tinggi pada energi fosil dalam rantai pasok dan operasional sehari-hari.
Latar Belakang Kenaikan Harga Minyak
Sebagai informasi, kenaikan harga minyak dunia terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik, terutama perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang meletus pada 28 Februari 2026. Situasi ini menciptakan ketidakpastian di pasar global, mendorong harga komoditas energi naik tajam. Kondisi ini mengingatkan pada fluktuasi historis yang sering kali memicu tekanan inflasi dan ketidakstabilan ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Bhima lebih lanjut memperingatkan bahwa jika harga minyak tetap bertahan di level tinggi, dampaknya bisa meluas ke aspek makroekonomi. APBN, misalnya, mungkin menghadapi tantangan akibat meningkatnya subsidi energi atau penurunan penerimaan negara dari sektor terkait. Selain itu, kenaikan biaya transportasi dan produksi dapat berujung pada inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya memengaruhi daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Oleh karena itu, ia menyarankan perlunya langkah-langkah antisipatif dari pemerintah dan pelaku usaha untuk memitigasi risiko ini, seperti diversifikasi sumber energi dan efisiensi operasional. Pemantauan ketat terhadap perkembangan pasar minyak dunia juga dianggap penting untuk merespons perubahan dengan cepat dan tepat.
