USTDA Dukung Teknologi AS untuk Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Indonesia
Teknologi AS Dukung Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Indonesia

USTDA Dukung Teknologi AS untuk Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Indonesia

Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) memberikan dukungan strategis bagi pemanfaatan teknologi inovatif asal Amerika Serikat untuk meningkatkan pengolahan litium, mineral kritis yang diekstraksi dari operasi panas bumi di Indonesia. Melalui proyek percontohan yang didanai USTDA, perusahaan berbasis California, Lilac Solutions, Inc., akan mendemonstrasikan teknologi pertukaran ionnya di fasilitas PT Geo Dipa Energi (GDE) di area panas bumi Dieng, Jawa Tengah.

Proyek Percontohan untuk Kemandirian Industri Baterai

Direktur Utama GDE, Yudistian Yunis, menyatakan bahwa dukungan USTDA ini merupakan langkah penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia untuk memenuhi kebutuhan litium domestik, sekaligus mempererat kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat. "Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan," ujar Yunis.

Ia menambahkan bahwa inisiatif ini berpotensi mempercepat pengembangan industri baterai dalam negeri dan memperluas pemanfaatan litium secara domestik melalui peningkatan nilai tambah energi terbarukan. Dukungan USTDA diharapkan dapat mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian dari AS, membuka peluang kemitraan dengan calon pembeli asal Amerika, serta menarik investasi lanjutan untuk pengembangan proyek yang lebih skalabel dalam jangka panjang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fasilitas Pertama di Indonesia untuk Ekstraksi Litium

Wakil Direktur USTDA, Thomas R. Hardy, menekankan bahwa fasilitas ini akan menjadi yang pertama di Indonesia yang mampu mengekstraksi litium dari air panas bumi. "Proyek ini diharapkan dapat menghadirkan sumber pasokan litium yang andal sekaligus mendukung kebutuhan teknologi modern dan energi di Indonesia," kata Hardy. Ia juga menyoroti bahwa keamanan dan kemakmuran Amerika bergantung pada akses terhadap mineral kritis dari sumber yang terpercaya.

Teknologi pertukaran ion yang diterapkan oleh Lilac Solutions ditujukan untuk menunjukkan metode produksi litium karbonat berkualitas tinggi yang efektif dan bertanggung jawab secara lingkungan. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk optimalisasi sumber daya, tetapi juga membuka akses bagi GDE untuk terhubung dengan calon pembeli litium karbonat dari Amerika Serikat, serta menarik investasi untuk ekspansi di sektor energi panas bumi di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.

Sinergi yang Menguntungkan dan Dampak Jangka Panjang

CEO Lilac, Raef Sully, menyatakan bahwa dukungan USTDA dapat membuka peluang bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing di pasar global. "Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar," tutur Sully.

USTDA, sebagai inisiatif pemerintah AS, berfokus pada pendanaan tahap awal teknis proyek untuk mempercepat pengembangan infrastruktur di negara berkembang, sekaligus mendorong penerapan teknologi asal Amerika Serikat. Acara peluncuran proyek ini dihadiri oleh berbagai pihak kunci, termasuk Presiden Direktur Medco Eka Satria, Direktur Regional USTDA untuk Indo-Pasifik Verinda Fike, dan Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Michael F. Kleine.

Kemitraan ini dinilai mencerminkan sinergi yang saling menguntungkan, memperkokoh ketahanan rantai pasok litium global, serta mendukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan untuk masa depan industri energi terbarukan di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga