DPR Soroti Usia Sumur Minyak RI yang Tua, Butuh Cadangan Migas Baru
Sumur Minyak RI Tua, DPR: Butuh Cadangan Migas Baru

DPR Soroti Usia Sumur Minyak RI yang Tua, Butuh Cadangan Migas Baru

Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno menegaskan bahwa Indonesia memerlukan eksplorasi dan pengeboran baru dalam jumlah besar jika ingin meningkatkan lifting migas nasional. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap komentar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyinggung adanya menteri yang meragukan peningkatan produksi minyak.

Sumur Minyak Rata-rata Sudah Tua dan Mahal

Eddy Soeparno menjelaskan bahwa kondisi sumur-sumur minyak di Indonesia saat ini rata-rata sudah tua, sehingga keekonomiannya cenderung mahal. "Saya tidak bermaksud menanggapi pernyataan para menteri, namun untuk mencapai kenaikan lifting migas diperlukan eksplorasi dan drilling dalam jumlah yang banyak. Karena sumur-sumur minyak kita rata-rata sudah tua, keekonomiannya cenderung mahal," kata Eddy saat dihubungi pada Jumat (13/2/2026).

Atas dasar itu, politikus dari Fraksi PAN ini menilai Indonesia memang perlu mencari sumur atau ladang minyak baru. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan teknologi, pendanaan, dan pengalaman yang memadai, mengingat banyak cadangan migas Indonesia berada di laut dalam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pesimistis Capai Target 1 Juta Barel dengan Andalkan Pertamina Saja

Eddy Soeparno menyatakan pesimisme terhadap kemampuan Indonesia mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030 jika hanya mengandalkan Pertamina. "Oleh karena itu para pemain besar migas dari Amerika, Eropa, Cina harus kembali masuk berinvestasi," imbuhnya.

Wakil Ketua MPR ini juga memandang bahwa ada pekerjaan rumah besar untuk menarik investasi migas. Ia menekankan bahwa sektor migas sangat kompetitif secara global. "Jika Indonesia kalah menarik (kebijakan, aturan, insentif) dibandingkan negara-negara lainnya, tentu para pelaku usaha migas internasional akan memilih berusaha di negara lain," tuturnya.

Pernyataan Purbaya Mendukung Perlunya Eksplorasi Baru

Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa juga telah berbicara mengenai pentingnya eksplorasi baru dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pekan lalu. Ia menyatakan bahwa lifting migas pasti akan terus menurun tanpa penemuan titik bor baru.

"Ini PNBP migas itu hampir pasti turun terus kalau kita nggak ada eksplorasi baru, karena nature dari reservoir itu pasti turun kalau sudah capai puncak pasti turun terus, nggak ada yang bisa naik. Jadi salah satu cara adalah mengundang investor baru domestik atau asing untuk lakukan eksplorasi minyak dan gas, atau eksploitasi ladang ladang yang sudah ditemukan," kata Purbaya dalam rapat tersebut pada Rabu (4/2).

Purbaya bahkan menyebut bahwa saat ini yang terjadi hanyalah permainan istilah untuk menciptakan kesan peningkatan lifting. "Kalau sekarang ya diputer-puter ya juga paling main-main istilah supaya kelihatan naik kan, tapi tanpa penemuan ladang minyak baru, tanpa eksplorasi baru, kita nggak akan bisa naikkan lifting dan lifting kita akan turun terus," ujarnya.

Komentar Awal dari Menteri Bahlil

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya telah mengungkapkan adanya salah satu menteri yang meragukan kemampuan peningkatan lifting tanpa penemuan ladang minyak baru. Dalam acara Kuliah Umum di Hotel Borobudur, Jakarta pada Kamis (12/2), Bahlil menyatakan, "Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri yang mengatakan bahwa bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada. Eh ini terlalu banyak baca buku nih."

Sebagai informasi, lifting migas nasional pada tahun 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari. Diskusi mengenai masa depan produksi migas Indonesia ini muncul di tengah tantangan sumur minyak yang menua dan kebutuhan mendesak untuk menemukan cadangan baru.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga