Riset Badan Geologi Ungkap Sesar Lembang Bukan Patahan Tunggal, Perlu Mitigasi Spesifik
Sesar Lembang Bukan Patahan Tunggal, Butuh Mitigasi Spesifik

Riset Terbaru Ungkap Kompleksitas Sesar Lembang, Bukan Patahan Tunggal

Hasil penelitian mutakhir dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap fakta penting mengenai Sesar Lembang. Struktur geologi yang membentang sepanjang sekitar 29 kilometer di wilayah utara Kota Bandung ini ternyata bukan merupakan satu patahan tunggal dengan tingkat risiko yang seragam di sepanjang jalurnya.

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi strategi mitigasi bencana gempa bumi di kawasan Bandung Raya. Penelitian menekankan bahwa pendekatan yang selama ini mungkin bersifat umum untuk seluruh wilayah Sesar Lembang perlu dievaluasi ulang.

Segmentasi dan Keterkaitan dengan Sistem Vulkanik

Sukahar Eka Adi Saputra, Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, memberikan penjelasan mendetail mengenai temuan ini. Ia menyatakan bahwa Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang sangat jelas.

"Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung," ujar Sukahar, seperti dikutip dari Antara pada Kamis, 26 Februari 2026.

Pembagian menjadi segmen-segmen yang berbeda ini tidaklah sembarangan. Setiap segmen memiliki karakteristik dan tingkat aktivitas seismiknya sendiri, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh interaksinya dengan sistem vulkanik kompleks yang ada di kawasan Bandung.

Implikasi untuk Mitigasi Bencana yang Lebih Efektif

Penelitian ini secara tegas menyerukan perlunya pendekatan mitigasi bencana yang lebih spesifik dan disesuaikan. Alih-alih menerapkan strategi tunggal untuk seluruh panjang sesar, langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan harus dirancang berdasarkan analisis mendalam terhadap setiap segmennya.

Beberapa poin kunci yang perlu menjadi perhatian meliputi:

  • Pemetaan Risiko Mikro: Evaluasi tingkat ancaman gempa perlu dilakukan per segmen, bukan secara keseluruhan.
  • Penyusunan Rencana Kontinjensi: Rencana tanggap darurat harus mempertimbangkan karakter unik dan potensi dampak dari aktivitas setiap segmen sesar.
  • Edukasi Publik yang Tepat Sasaran: Sosialisasi kepada masyarakat harus disesuaikan dengan profil risiko di lokasi tempat mereka tinggal atau beraktivitas.

Dengan memahami bahwa Sesar Lembang adalah struktur yang tersegmentasi, bukan entitas tunggal, para pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan kebijakan dan program pengurangan risiko bencana yang lebih tepat sasaran, efektif, dan efisien untuk melindungi keselamatan warga Bandung dan sekitarnya.