Kunjungi BRIN, Rosatom Rusia Bahas Kerja Sama Teknologi Nuklir
Rosatom Rusia Kunjungi BRIN Bahas Kerja Sama Nuklir

Perusahaan energi nuklir asal Rusia, Rosatom, melakukan kunjungan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada pekan ini. Kunjungan tersebut bertujuan untuk membahas potensi kerja sama di bidang teknologi nuklir antara kedua belah pihak.

Fokus Pembahasan Kerja Sama

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor BRIN, Jakarta, delegasi Rosatom yang dipimpin oleh Wakil Presiden Regional Rosatom untuk Asia Tenggara, Pavel Shevchenko, bertemu dengan jajaran pimpinan BRIN. Diskusi difokuskan pada pengembangan riset nuklir, transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di Indonesia.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di tanah air. "Kami sangat terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Rosatom, guna memperkuat riset nuklir di Indonesia," ujar Handoko.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Potensi Pengembangan PLTN

Salah satu topik utama yang dibahas adalah potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Rosatom menawarkan teknologi reaktor modular kecil (SMR) yang dinilai lebih aman dan efisien. Teknologi ini dianggap cocok untuk kebutuhan energi di Indonesia yang tersebar di berbagai pulau.

Pavel Shevchenko menyatakan bahwa Rosatom siap mendukung Indonesia dalam mengembangkan infrastruktur nuklir. "Kami memiliki pengalaman luas dalam membangun dan mengoperasikan PLTN di berbagai negara. Kami yakin dapat berkontribusi pada program energi nuklir Indonesia," kata Shevchenko.

Kerja Sama Riset dan SDM

Selain PLTN, kerja sama juga mencakup bidang riset dan pengembangan sumber daya manusia. BRIN dan Rosatom sepakat untuk mengadakan program pertukaran peneliti, pelatihan, serta seminar bersama. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi para ilmuwan dan teknisi nuklir Indonesia.

BRIN juga akan mengirimkan sejumlah peneliti muda untuk magang di pusat riset nuklir milik Rosatom di Rusia. Program ini bertujuan untuk mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi nuklir ke Indonesia.

Komitmen Keamanan Nuklir

Kedua pihak juga membahas aspek keamanan nuklir. Rosatom menekankan komitmennya terhadap standar keselamatan internasional. Teknologi yang ditawarkan telah memenuhi standar IAEA (Badan Energi Atom Internasional).

BRIN pun menegaskan bahwa setiap kerja sama nuklir akan selalu mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan. "Kami tidak akan mengorbankan keselamatan rakyat demi kepentingan energi. Semua langkah akan dikaji secara ketat," tegas Handoko.

Langkah Selanjutnya

Setelah pertemuan ini, kedua pihak akan membentuk tim teknis untuk merumuskan detail kerja sama. Tim tersebut akan bertugas menyusun nota kesepahaman (MoU) yang akan ditandatangani dalam waktu dekat.

Kerja sama dengan Rosatom ini diharapkan dapat mempercepat realisasi program nuklir Indonesia, yang tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Pemerintah menargetkan PLTN pertama dapat beroperasi pada tahun 2030-an.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga