PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meluncurkan program Clean Energy Day sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Program ini juga mengoptimalkan pemanfaatan energi secara efisien.
Implementasi Arahan Strategis Pemerintah
Direktur Manajemen Human Capital dan Administrasi PLN EPI, Dedeng Hidayat, menyatakan bahwa program ini merupakan implementasi arahan strategis pemerintah melalui BP BUMN dan PT PLN (Persero) dalam merespons dinamika global, termasuk tekanan terhadap rantai pasok energi.
“Kegiatan ini dilaksanakan tiap Jumat dan diikuti oleh seluruh pegawai serta tenaga alih daya di lingkungan PLN EPI,” ujar Dedeng dalam keterangannya di Jakarta, melansir Antara, Rabu (29/4/2026).
Perubahan Perilaku Menuju Energi Bersih
Menurut Dedeng, PLN EPI sebagai subholding PLN berperan aktif memastikan efisiensi energi sekaligus menjaga keberlanjutan operasional perusahaan. Ia menegaskan bahwa transformasi menuju energi bersih tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga perubahan perilaku.
“Komitmen menuju net zero emission pada 2060 tidak hanya lahir dari proyek besar, tetapi juga dari kebiasaan sederhana yang kita lakukan setiap hari,” ucapnya. “Program Clean Energy Day menjadi langkah nyata untuk membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam mengurangi emisi dan menjaga keberlanjutan energi,” sambung Dedeng.
Bagian Transformasi Budaya Kerja
Dedeng menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari transformasi budaya kerja yang mendorong pola kerja yang lebih efisien, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap penggunaan energi. “Melalui program Clean Energy Day, pegawai dan tenaga alih daya diimbau untuk tidak menggunakan kendaraan berbasis BBM setiap Jumat, serta mengoptimalkan penggunaan transportasi umum, kendaraan listrik, bersepeda, atau berjalan kaki,” ucapnya.
Selain itu, pegawai juga diminta mencatat histori perjalanan guna mengukur penurunan emisi karbon dan efisiensi penggunaan bahan bakar. “Berdasarkan data internal, implementasi program ini berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 45,7 ton CO2e per tahun, yang setara dengan penggunaan 18.800 liter Pertamax atau CO2 yang diserap 500 mangrove selama 20 tahun,” kata Dedeng.
“Program ini bukan sekadar inisiatif, tetapi langkah nyata untuk membangun pola pikir baru bahwa energi adalah sumber daya yang harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab,” jelasnya.



