Kuala Kampar - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat meninjau pembangunan sekat kanal di Pulau Mendol, Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau. Kehadiran pemerintah pusat melalui pembangunan infrastruktur pengendali air tersebut disambut positif oleh masyarakat setempat.
Salah seorang warga Desa Sungai Perak, Erwan (49), mengaku senang karena wilayah Kuala Kampar akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah. Menurutnya, kawasan tersebut selama ini kerap tertinggal dibandingkan daerah lain di Riau.
"Kalau kami itu sebenarnya ada pembangunan ini diperhatikan oleh pemerintah ini kami bertambah senang, karena tempat kami ini tertinggal. Coba kecamatan yang tertua, mulai dari Pulau Lawan buka, sini dulu buka, baru ada sana (Pangkalan Kerinci), baru ada Kerinci. Kalau nggak ada sini, nggak ada sana tuh. Tapi di sini yang paling tertinggal," kata Erwan saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Erwan menuturkan pembangunan sekat kanal sangat penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan gambut. Ia mengaku kebun miliknya beberapa kali hangus akibat kebakaran lahan.
"Saya bikin kebun saya itu, empat kali nanamnya tuh. Nanam tahun ini, hangus. Tahun depan nanam lagi. Tahun depan hangus lagi, tahun depannya lagi nanam. Karena awak ini kuat, semangat itu kuat, nanam terus, akhirnya dapat juga berbuah," ujarnya.
Meski menyambut baik pembangunan sekat kanal, Erwan berharap proyek tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Ia meminta agar pemerintah memastikan adanya perawatan dan pengawasan setelah pembangunan selesai.
Dia menilai keberadaan petugas yang menjaga serta merawat pintu air sangat penting agar fungsi sekat kanal tetap optimal dalam jangka panjang.
"Bagus juga ada bangunan pintu air gini, tapi dilaksanakan bangunannya. Nanti setiap ada pula yang penjaganya kan, perawatan," tuturnya.
"Ini kadang-kadang sudah dibangun, biarin. Nggak ada perawatan, sama dengan tidak. Sama cuma menyemangatkan kasih angin segar saja dengan masyarakat, kan gitu," lanjut Erwan.
Menurut Erwan, masyarakat Kuala Kampar siap mendukung program pemerintah. Hal itu dibuktikan dengan gotong royong warga yang membantu pembangunan sekat kanal sehari sebelumnya.
"Kami paling suka kalau ada bangunan, kami support. Tengok kami, tahan kami satu hari semalam tuh tak bekerja kegiatan kami, kami satu masyarakat sini bantu semua. Tolong, bantu semua, tak ada biaya, kami mengeluarkan," katanya.
Ia menjelaskan, sekat kanal berfungsi sebagai sistem pengatur tata air yang sangat penting bagi produktivitas kebun kelapa dan karet milik warga. Selama ini kanal-kanal yang terbuka tanpa sekat membuat air di kubah gambut mengalir deras ke laut. Akibatnya, lahan menjadi kering saat musim kemarau dan tergenang ketika musim hujan.
Dengan adanya sekat kanal, tinggi muka air tanah dapat dipertahankan sehingga kelembapan lahan tetap terjaga dan risiko kebakaran dapat ditekan.
"Di sini kalau musim hujan tergenang tuh, terendam, banjir. Jadi kalau ada kanal itu kan nanti kan dibersihkan pemerintah, jadi baguslah daerah kami ini, kelapa-kelapa jadi bagus," ucapnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan warga lainnya, Kasogi. Ia berharap pembangunan sekat kanal tidak berhenti setelah kunjungan pejabat berakhir.
"Tolonglah ke depan, macam kanal ini Pak, kalau bapak-bapak tidak hadir, Pak Menteri tidak hadir, mungkin kegiatan ini akan stop (berhenti). Ketika bapak pulang, hari ini akan stop. Inilah kenyataan yang ada," ujar Kasogi.
Ia berharap pembangunan sekat kanal diperluas karena masih banyak parit di Kuala Kampar yang membutuhkan penanganan serupa agar lahan gambut tidak mengalami kekeringan.
Selain itu, Kasogi juga menyoroti keberlanjutan Masyarakat Peduli Api (MPA). Menurutnya, kelompok tersebut selama ini belum mendapatkan dukungan yang memadai, baik dari sisi anggaran maupun peralatan pemadam kebakaran.
"Karena satu, kita alat tidak ada, Pak. Terutama alat pemadam kebakaran. Ketika ada kebakaran lahan, yang kita gunakan hanya tangki racun (semprotan hama), Pak. Kita menggunakan tangki racun untuk memadamkan api. Nah ini cukup tidak layak," katanya.
Kasogi menjelaskan kondisi gambut di Kuala Kampar sangat rentan terbakar. Jika hujan tidak turun selama satu bulan, permukaan air akan surut drastis dan lahan menjadi sangat kering.
"Harapan kami, Pak, kalau dapat Masyarakat Peduli Api ini tolonglah dibantu. Karena ketika MPA ini mendapat sarana dan prasarana serta anggaran yang cukup, saya rasa masalah kebakaran tidak menjadi permasalahan yang besar, Pak," pungkasnya.
Menteri LH Tinjau Pembangunan Sekat Kanal
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat melakukan kunjungan kerja ke Kuala Kampar untuk meninjau langsung pembangunan sekat kanal yang menjadi salah satu upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah gambut.
Pantauan di lokasi, Jumhur tiba sekitar pukul 10.45 WIB. Ia didampingi Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Bupati Pelalawan Zukri.
Karena keterbatasan akses dan tidak adanya kendaraan roda empat di Pulau Mendol, rombongan menggunakan sepeda motor milik warga menuju Desa Sungai Perak, lokasi pembangunan sekat kanal.
Perjalanan ditempuh sejauh sekitar 4,2 kilometer melintasi jalan pulau. Setelah mencapai titik akhir kendaraan, rombongan masih harus berjalan kaki sekitar 200 meter untuk mencapai lokasi pembangunan.
Jumhur menjelaskan, sekat kanal merupakan infrastruktur penting untuk menjaga tinggi muka air tanah di kawasan gambut. Dengan kondisi gambut yang tetap basah, potensi kebakaran dapat ditekan.
"Kita di berbagai wilayah di tanah air yang memiliki lahan gambut adalah fakta. Lahan gambut itu apabila dia tidak digenangi secara terus menerus pada saat yang sama terus disinari oleh matahari, maka dia berpotensi menjadi panas dan bisa terbakar itu fakta," kata Jumhur.
"Jadi bencana lahan terbakar itu pada dasarnya bencana alami. Namun itu bisa disiasati, terlebih lagi kalau kita bisa memastikan ada air yang selalu menggenangi," lanjutnya.
Menurut Jumhur, sekat kanal yang dibangun memiliki lebar sekitar tiga meter. Di sejumlah titik, konstruksi dibuat bertingkat mengikuti kontur lahan agar air dapat meresap secara optimal ke dalam kubah gambut.
"Kedatangan saya ke sini adalah untuk menunjukkan bahwa gerakan bersama untuk menggenangi air seperti yang kita lakukan di sini adalah membangun sekat-sekat kanal, membuat semacam bendungan dengan membatasi debit air sehingga airnya bisa melimpah ke sekitar sini itu adalah bagian dari upaya untuk memitigasi agar bencana kebakaran lahan bisa dikurangi," pungkasnya.



