Limbah Panen Sayur di Rejang Lebong Disulap Jadi Sumber Listrik Desa
Kabupaten Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu, yang dikenal sebagai lumbung sayuran di Sumatera Bagian Selatan, kini memiliki solusi inovatif untuk mengatasi masalah limbah pertanian. Komunitas Rumpun Hijau Indonesia berhasil menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) berbasis limbah sayuran, mengubah tumpukan sampah organik menjadi sumber penerangan alternatif bagi desa.
Dari Masalah Lingkungan Menjadi Peluang Energi
Rejang Lebong, dengan topografi dataran tinggi dan hawa sejuk, sangat cocok untuk budidaya hortikultura seperti tomat, kol, cabai, serta perkebunan kopi dan teh. Namun, produktivitas tinggi ini seringkali diikuti oleh fluktuasi harga yang tidak menentu. Pada periode 2021 hingga 2022, saat panen raya tiba, harga anjlok drastis sehingga petani terpaksa membuang sayuran dalam jumlah besar.
"Tumpukan tomat busuk bahkan sempat menutup satu ruas jalan, sementara sebagian lainnya dibuang ke jurang di sekitar wilayah," menggambarkan betapa seriusnya masalah limbah ini. Volume limbah organik yang melimpah tidak hanya menjadi simbol kekecewaan petani, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran pencemaran lingkungan.
Inovasi PLTBG oleh Komunitas Muda
Keresahan atas sampah sayuran yang tak tertangani mendorong sejumlah anak muda dalam komunitas Rumpun Hijau Indonesia untuk mencari solusi. Berbekal latar belakang akademis di bidang teknik elektro, mereka menggagas PLTBG yang memanfaatkan proses fermentasi dan kompresi gas dari limbah sayuran.
Pendiri Rumpun Hijau Indonesia, Dani Fazli, menjelaskan bahwa pengembangan PLTBG dimulai pada awal 2023 dan sudah dapat dimanfaatkan pada akhir tahun yang sama. Proses pengolahan limbah melibatkan beberapa tahap:
- Limbah sayuran dicacah dan dihancurkan
- Dimasukkan ke dalam tabung fermentasi dan dicampur dengan larutan E-M4 serta glukosa untuk mempercepat pembentukan gas
- Tabung ditutup rapat dan didiamkan selama lebih dari dua pekan hingga tekanan meningkat
- Gas yang dihasilkan dialirkan melalui regulator menuju generator untuk menghasilkan listrik
Saat ini, PLTBG tersebut mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas sekitar 2.000 watt, yang dapat digunakan hingga 12 jam. Daya ini telah dimanfaatkan untuk menerangi balai desa di sentra produksi pertanian setempat.
Potensi Pengembangan dan Dampak Positif
Untuk menghasilkan 2.000 watt, dibutuhkan sekitar empat ton limbah sayuran. Komunitas ini mendapatkan pasokan 12 ton bahan baku setiap kali pengolahan dari pengepul atau tauke sayur, yang sebagian besar diberikan tanpa biaya karena dianggap tidak memiliki nilai jual.
"Keberadaan listrik alternatif seperti ini membuka peluang integrasi antara pengelolaan sampah dan pengembangan energi baru terbarukan di daerah agraris," tegas Dani Fazli seperti dilansir Antara.
Potensi pengembangan PLTBG ini masih sangat besar. Kapasitas pembangkit listrik alternatif yang pernah meraih penghargaan dalam kompetisi tingkat Asia ini bisa ditingkatkan untuk menghasilkan daya yang lebih besar dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Dukungan Pemerintah dan Peran Masyarakat
Di tengah meningkatnya volume sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rejang Lebong pada akhir 2025 mengajak masyarakat untuk lebih aktif mengolah sampah secara mandiri. Pemerintah setempat mencatat bahwa volume buangan sampah dari kawasan pemukiman dan pasar tradisional mencapai 60 ton per hari, dan bisa meningkat hingga 75 ton per hari saat bulan puasa dan mendekati Lebaran.
Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi:
- Pemisahan sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya
- Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos atau bentuk lainnya
- Daur ulang sampah non-organik seperti plastik dan kemasan menjadi produk bernilai ekonomis
Perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Rejang Lebong. Dengan pemilahan dan pengolahan sederhana, beban tempat pembuangan sementara dapat ditekan dan pencemaran lingkungan bisa diminimalkan.
Transformasi limbah sayuran menjadi sumber listrik ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan kesadaran kolektif dapat mengubah masalah menjadi sumber kebermanfaatan bagi masyarakat.