Krisis Energi Global Meningkat Usai Iran Kuasai Selat Hormuz
Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah memicu dampak signifikan terhadap sektor energi di berbagai negara di seluruh dunia. Situasi ini semakin memanas ketika Iran mengambil alih kendali atas Selat Hormuz, yang merupakan jalur pengiriman minyak paling vital secara global.
Respons Iran Atas Serangan Awal Tahun 2026
Penguasaan Selat Hormuz oleh Iran dilakukan sebagai bagian dari respons langsung terhadap serangan yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari 2026. Langkah strategis ini langsung mengganggu arus transportasi kapal-kapal yang mengangkut bahan bakar, menciptakan hambatan besar dalam pasokan energi internasional.
Beberapa negara telah menyatakan diri mengalami krisis energi akibat gangguan ini. Filipina, misalnya, mengambil tindakan tegas dengan menetapkan status darurat energi nasional pada hari Selasa, 24 Maret 2026.
Langkah Darurat Filipina Hadapi Krisis
Pemerintah Filipina tidak hanya mendeklarasikan darurat energi, tetapi juga mengaktifkan dana darurat senilai 20 miliar peso, setara dengan sekitar Rp 5,61 triliun. Dana ini dialokasikan khusus untuk membeli bahan bakar dalam jumlah besar, mencapai hingga 2 juta barel.
Pembelian tersebut mencakup berbagai jenis bahan bakar, termasuk minyak olahan dan elpiji, sebagai upaya untuk mengamankan pasokan energi dalam negeri di tengah ketidakpastian global. Krisis ini menyoroti betapa rentannya sistem energi dunia terhadap gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah.



