Krisis bahan bakar pesawat yang dipicu konflik di Iran terus mengguncang industri penerbangan global. Maskapai-maskapai besar di Eropa dan Asia terpaksa memangkas jadwal penerbangan karena kelangkaan avtur dan lonjakan harga tiket. Lufthansa, maskapai terbesar Jerman, mengumumkan pembatalan 20.000 penerbangan antara Mei hingga Oktober 2026 demi menghemat konsumsi bahan bakar. Keputusan ini diambil setelah harga avtur melonjak dua kali lipat sejak konflik Iran-AS memanas.
Dampak di Eropa
Selain Lufthansa, maskapai Belanda KLM juga membatalkan 160 penerbangan pada bulan Mei. Krisis ini diperkirakan akan berlanjut hingga musim panas, mengancam rencana liburan jutaan penumpang. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa Eropa hanya memiliki cadangan avtur untuk enam minggu ke depan. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jrgensen, menambahkan bahwa masalah telah bergeser dari kenaikan harga menjadi krisis pasokan.
Langkah Uni Eropa
Para menteri transportasi Uni Eropa telah bertemu pada 21 April untuk membahas strategi penanganan. Komisaris Transportasi Uni Eropa, Apostolos Tzitzikostas, menyatakan bahwa pemblokiran Selat Hormuz dalam jangka panjang akan menjadi bencana bagi Eropa dan ekonomi global. Langkah yang dipertimbangkan meliputi pengelolaan bersama stok avtur, pengaturan distribusi antar negara anggota, dan peningkatan impor dari Amerika Serikat. Jika krisis berlanjut, intervensi dan keringanan bagi maskapai akan diberikan.
Kondisi di Indonesia
Di Indonesia, dampak krisis avtur mulai terasa dengan kenaikan harga tiket pesawat sebesar 9 hingga 13 persen. Namun, situasi ini belum mengakibatkan pengurangan penerbangan domestik secara signifikan. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan bahwa kenaikan harga tiket dan bahan bakar tidak mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke NTB. Sebaliknya, jumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Lombok justru meningkat, termasuk rute internasional, tanpa ada pembatalan jadwal. Pemerintah setempat tetap menyiapkan mitigasi untuk mengantisipasi jika krisis berlanjut.



