BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Lebih Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan penting terkait musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan data terkini, musim kemarau diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Puncak dari periode kekeringan ini diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2026.
Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau
Hingga akhir Maret 2026, beberapa wilayah di Indonesia telah memasuki fase musim kemarau. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa daerah-daerah tersebut meliputi:
- Sebagian kecil wilayah Aceh
- Sebagian kecil wilayah Sumatera Utara
- Sebagian kecil Riau
- Sebagian Sulawesi Tengah
- Sebagian Sulawesi Selatan
- Sebagian Sulawesi Tenggara
- Sebagian kecil Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku
- Sebagian kecil Papua Barat
Faisal menegaskan bahwa BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional, serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala kepada masyarakat.
Potensi Fenomena El Niño pada Semester Kedua 2026
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi iklim. Hingga akhir Maret 2026, fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada dalam fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
"Prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan ada kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ujar Ardhasena.
Dia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya fenomena spring predictability barrier, yang menyebabkan penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO selama periode musim semi di belahan Bumi utara (Maret, April, Mei).
Detail Prediksi Musim Kemarau 2026
Berdasarkan dokumen "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia" yang dirilis oleh BMKG, berikut adalah beberapa poin kunci yang perlu diketahui:
- Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3%), Mei (184 ZOM; 26,3%), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3%), dimulai dari wilayah Nusa Tenggara kemudian menyebar secara bertahap ke daerah lainnya.
- Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju (325 ZOM; 46,5%) dan sama dengan normalnya (173 ZOM; 23,7%).
- Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5%) diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
- Sebagian besar wilayah Indonesia (429 ZOM; 61,4%) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026.
- Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau maju (410 ZOM; 58,7%) dan sama dengan normalnya (142 ZOM; 20,3%).
- Sebagian besar wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2%) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.
Ardhasena menambahkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026, karena prediksi pada bulan tersebut memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.
BMKG menekankan bahwa meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia. Masyarakat diharapkan untuk terus mengikuti informasi resmi dari BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia.



