Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat penyimpanan karbon (carbon storage hub) terbesar di kawasan Asia-Pasifik. Hal ini sekaligus memainkan peran penting dalam mendorong agenda dekarbonisasi regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Eddy saat menjadi narasumber utama dalam sesi Fireside Chat pada rangkaian London Climate Week 2026 yang berlangsung di Imperial College London, Inggris. Forum itu dihadiri kalangan akademisi, industri, investor, dan pembuat kebijakan internasional.
Tantangan Dekarbonisasi Regional
Eddy menjelaskan bahwa tantangan dekarbonisasi di kawasan Asia-Pasifik tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh masing-masing negara. Diperlukan kolaborasi regional yang menghubungkan negara-negara dengan target pengurangan emisi tinggi dan negara-negara yang memiliki kapasitas penyimpanan karbon serta infrastruktur pendukung yang memadai.
"Indonesia memiliki keunggulan yang sangat besar karena diperkirakan memiliki kapasitas penyimpanan karbon sekitar 600 gigaton CO2, terbesar di Asia Tenggara. Potensi ini menjadikan Indonesia tidak hanya berperan dalam mengurangi emisi domestik, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur regional yang mendukung dekarbonisasi kawasan Asia-Pasifik," ujar Eddy dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Peran Teknologi CCS
Eddy menambahkan bahwa pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi salah satu instrumen penting untuk menurunkan emisi pada sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi, seperti pengolahan gas alam, petrokimia, semen, baja, dan pembangkit listrik. Menurut Waketum PAN ini, Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat pengembangan CCS melalui pengalaman lebih dari lima dekade di sektor minyak dan gas bumi, dukungan data bawah permukaan yang luas, infrastruktur yang telah tersedia, serta kapasitas teknis yang terus berkembang. Saat ini Indonesia juga telah mengidentifikasi sedikitnya 19 proyek CCS dan CCUS yang berada pada berbagai tahapan pengembangan.
Kerja Sama Lintas Negara
Dalam kesempatan tersebut, Eddy juga menyoroti pentingnya penguatan kerja sama lintas negara dalam pengelolaan karbon. Ia menilai keberhasilan pengembangan CCS lintas batas memerlukan harmonisasi regulasi, kerja sama antarpemerintah, standar pemantauan dan verifikasi yang diakui secara internasional, serta kepastian investasi bagi pelaku usaha. "Indonesia telah mengambil langkah maju dengan membangun kerangka regulasi CCS yang komprehensif, termasuk membuka ruang bagi kegiatan CCS lintas batas. Ini menjadi fondasi penting untuk menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis dalam kerja sama dekarbonisasi regional," kata Eddy.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia telah memperkuat kerja sama internasional terkait ekonomi karbon dan CCS, termasuk melalui skema Pasal 6 Persetujuan Paris bersama Norwegia, peningkatan kerja sama dengan Singapura, serta pengembangan dialog dan studi kelayakan bersama Jepang dan Korea Selatan.
Dampak Ekonomi dan Strategi Nasional
Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa CCS merupakan bagian dari strategi pembangunan nasional yang mengintegrasikan tujuan pengurangan emisi dengan peningkatan daya saing industri, ketahanan energi, dan penciptaan lapangan kerja. Ia menyebut pengembangan CCS berpotensi menarik investasi hingga sekitar USD 43 miliar dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. "Transisi energi harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Indonesia tidak melihat pengurangan emisi dan pembangunan sebagai dua agenda yang saling bertentangan. Justru melalui teknologi seperti CCS, keduanya dapat berjalan bersama sehingga menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan berdaya saing," tegas Doktor Ilmu Politik UI ini.



