Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno: Pemadaman Listrik Bukti Ketergantungan Batu Bara Rentan
Eddy Soeparno: Pemadaman Listrik Bukti Ketergantungan Batu Bara

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno merespons penjelasan PLN dan pemerintah mengenai pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah yang disebabkan oleh gangguan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) terkait. Eddy menegaskan peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi serius terhadap ketahanan energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada PLTU berbahan bakar batu bara.

Ketergantungan Berlebih pada Batu Bara Jadi Kerentanan Sistemik

“Kejadian pemadaman bergilir ini menunjukkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada satu sumber energi menciptakan kerentanan sistemik yang harus segera diatasi,” ujar Eddy dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).

Menurut Eddy, insiden ini membuktikan bahwa isu transisi energi bukan semata-mata persoalan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut keamanan energi nasional, daya saing ekonomi, dan ketahanan infrastruktur strategis. “Hari ini kita melihat bahwa ketahanan energi tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan batu bara. Ketahanan energi harus diukur dari kemampuan sistem menyediakan listrik yang andal, terjangkau, dan tahan terhadap gangguan pasokan maupun perubahan iklim,” tegas Eddy.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Urgensi Transisi Energi untuk Industrialisasi Nasional

Eddy menyoroti urgensi transisi energi yang berkaitan langsung dengan agenda industrialisasi nasional yang menjadi prioritas pemerintah. Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang semakin andal untuk mendukung hilirisasi mineral, pengembangan kawasan industri, manufaktur berteknologi tinggi, kendaraan listrik, hingga pertumbuhan pusat data yang menjadi tulang punggung ekonomi digital.

“Indonesia sedang membangun ekosistem industri masa depan. Smelter, kawasan industri, pabrik baterai kendaraan listrik, industri semikonduktor, hingga pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil 24 jam sehari,” jelas Waketum PAN tersebut. Gangguan pasokan listrik dalam skala besar berpotensi mengurangi daya saing investasi Indonesia.

Kebutuhan Listrik Meningkat, Investor Tuntut Energi Bersih

Menurut berbagai proyeksi internasional, kebutuhan listrik nasional diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat sebelum tahun 2060 seiring percepatan industrialisasi dan digitalisasi ekonomi. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan global kini semakin mempertimbangkan jejak karbon dan akses terhadap energi bersih sebagai faktor utama dalam menentukan lokasi investasi.

“Persaingan investasi global hari ini bukan hanya soal upah tenaga kerja atau insentif fiskal. Banyak investor mulai bertanya apakah suatu negara mampu menyediakan listrik yang bersih, stabil, dan kompetitif,” tegas Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia itu. “Karena itu, percepatan energi terbarukan harus dipandang sebagai agenda lingkungan sekaligus strategi ekonomi dan industri,” lanjutnya.

Dorongan Penguatan Kebijakan Transisi Energi

Sebagai pimpinan MPR RI, Eddy menyatakan upayanya untuk terus mendorong penguatan kebijakan nasional yang mendukung percepatan transisi energi, peningkatan ketahanan sistem kelistrikan, serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan Indonesia menuju ekonomi hijau dan Net Zero Emission (NZE).

“Pemadaman bergilir yang kita alami hari ini adalah pengingat bahwa biaya menunda transisi energi bisa jauh lebih mahal dibandingkan biaya mempercepatnya. Energi terbarukan bukan lagi pilihan masa depan, melainkan kebutuhan strategis Indonesia hari ini,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga