China Jadi Penentu Utama Ekspor Minyak Iran di Tengah Ancaman Blokade Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran global atas stabilitas pasokan minyak dunia. Ancaman Iran untuk membalas serangan Amerika Serikat dan Israel dengan memblokade Selat Hormuz telah membuat lalu lintas kapal di jalur strategis itu hampir berhenti. Namun, para analis meragukan Iran akan mengambil risiko tersebut dalam jangka panjang karena justru akan merugikan kepentingan nasionalnya sendiri.
Blokade Selat Hormuz Dinilai Tidak Rasional bagi Iran
Menurut pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International, menutup Selat Hormuz adalah langkah yang tidak masuk akal bagi Iran. "Iran sangat bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan melalui selat itu. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka, terutama minyak, ditujukan ke China dan India. Blokade justru akan menghambat perdagangan dengan mitra utama mereka," jelasnya kepada Bloomberg TV.
Analis gas dan ekonomi Dalga Khatinoglu menambahkan bahwa sekitar 70% perdagangan nonmigas Iran melewati pelabuhan yang memerlukan akses melalui Selat Hormuz. Memblokade jalur tersebut dalam waktu lama akan memperparah krisis ekonomi yang sudah dihadapi Iran akibat sanksi internasional.
Dampak Global dan Lonjakan Harga Energi
Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia. Badan Informasi Energi Amerika Serikat melaporkan bahwa sekitar 20% minyak mentah global diangkut melalui selat ini, dengan lebih dari 80% pengirimannya menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang. Penutupan selat tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak, tetapi juga bahan bakar penerbangan dan gas alam cair.
Sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari 2026, harga minyak dan gas telah melonjak signifikan. Para ahli memperkirakan biaya satu barel minyak bisa naik hingga 100 dolar AS atau lebih jika pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi terlalu berbahaya. Meskipun banyak negara memiliki cadangan strategis untuk menghadapi gangguan pasokan sementara, ketegangan ini mengancam stabilitas pasar energi global.
Ketergantungan Iran pada China di Tengah Sanksi Barat
Sanksi Barat terhadap Iran, yang telah berlangsung sejak Revolusi Islam 1979 dan diperketat terkait program nuklir, justru memperkuat ketergantungan Iran pada China. Menurut data dari platform Kpler, lebih dari 80% ekspor Iran sekarang dikirim ke China, menjadikannya pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia. Sanksi memaksa ketiga negara ini menjual minyak dengan harga diskon, yang menguntungkan China tetapi mengurangi pendapatan ekspor Iran.
Nikolay Kozhanov dari Qatar University menyatakan, "China saat ini merupakan sumber kehidupan yang tak tergantikan bagi ekspor minyak Iran karena membeli sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi." Ketergantungan ini membuat perkembangan ekonomi China lebih penting bagi Iran daripada sanksi baru dari PBB.
Diversifikasi Impor Minyak China dan Implikasi Jangka Panjang
Sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela juga memungkinkan China mendiversifikasi sumber impor minyaknya, menjauh dari pemasok yang memiliki hubungan erat dengan AS seperti negara-negara Gulf Cooperation Council. Namun, bagi Iran, sanksi telah melemahkan sektor minyaknya dengan membatasi akses terhadap teknologi baru, pembiayaan internasional, dan investasi.
Kozhanov memprediksi bahwa Iran kemungkinan akan tetap hadir di pasar minyak global, tetapi sebagai pemasok yang secara struktural dilemahkan. "Iran akan menjual minyak dengan diskon besar, mempertahankan volume perdagangan yang stabil tetapi dengan pendapatan per unit yang lebih rendah. Ini mencerminkan penurunan umum dalam kinerja dan stabilitas rezim," tambahnya.
Dengan demikian, posisi China sebagai penentu utama ekspor minyak Iran tidak hanya mempengaruhi dinamika ekonomi kedua negara, tetapi juga stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah dan pasar energi dunia.
