BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat Signifikan
BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat

BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Kering, Risiko Karhutla Meningkat Signifikan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi iklim pada tahun 2026. Menurut lembaga tersebut, kemarau di tahun itu berpotensi lebih kering dibandingkan kondisi normal, dengan indikasi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam berbagai forum, termasuk Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla di Jakarta.

Prediksi Iklim dan Dampak El Nino

Faisal menjelaskan bahwa saat ini fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih dalam fase netral. Namun, pada semester kedua 2026, diprediksi akan berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen. "Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering," ujarnya.

Kondisi ini diperkuat oleh data titik panas (hotspot) yang tercatat hingga awal April 2026 mencapai 1.601 titik, angka yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan ini mengindikasikan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih besar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Wilayah Rawan dan Timeline Peningkatan Karhutla

BMKG memetakan potensi peningkatan karhutla di beberapa wilayah Indonesia. Berdasarkan prediksi, risiko kebakaran diperkirakan mulai meningkat di Riau pada Juni 2026, kemudian meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan. Selanjutnya, pada periode Juli hingga Agustus, wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan juga berpotensi mengalami peningkatan karhutla.

Faisal menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional untuk menghadapi ancaman ini, mengingat dampak karhutla yang dapat merugikan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Langkah Mitigasi dan Operasi Modifikasi Cuaca

Sebagai upaya mitigasi, BMKG memperkuat langkah preventif melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan metode pembasahan lahan (rewetting). Modifikasi cuaca dilakukan ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, bertujuan menjaga kelembapan agar tidak mudah terbakar.

BMKG juga memanfaatkan Fire Danger Rating System (FDRS) untuk memetakan tingkat kerawanan kebakaran, serta memantau hotspot, sebaran asap, dan potensi pertumbuhan awan hujan. Diseminasi informasi peringatan dini dan monitoring efektivitas operasi turut ditingkatkan.

Saat ini, operasi modifikasi cuaca berlangsung di sejumlah wilayah prioritas dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hasilnya cukup signifikan:

  • Di Riau, operasi dari 28 Maret hingga 11 April 2026 berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik dari 23 sorti penerbangan.
  • Di Natuna, operasi pada 1–5 April 2026 meningkatkan curah hujan sebesar 36 persen atau sekitar 1,4 juta meter kubik dari tiga sorti penerbangan.

Arahan Presiden dan Sinergi Nasional

Faisal mengungkapkan bahwa BMKG mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat operasi modifikasi cuaca dalam strategi nasional pengendalian karhutla. "Semoga kita semua dapat bersinergi dalam langkah yang sama untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2026," kata dia.

Dengan prediksi iklim yang mengkhawatirkan, BMKG mengimbau semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemarau ekstrem dan risiko karhutla yang meningkat di tahun 2026.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga