Ramadan di Gaza: Ibadah di Tengah Reruntuhan dan Kehilangan Spiritual
Gaza City - Bulan suci Ramadan di Jalur Gaza telah dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026, waktu setempat, dengan suasana yang jauh dari khidmat akibat dampak perang yang berkepanjangan. Warga Palestina, banyak yang kehilangan tempat tinggal dan tempat ibadah akibat rentetan serangan Israel, terpaksa mendatangi reruntuhan masjid yang hancur atau tempat-tempat salat darurat yang hanya terbuat dari terpal dan kayu bekas.
Kubah Masjid Hancur dan Halaman Berubah Fungsi
Di Kota Gaza, yang sebelumnya merupakan kota paling padat di Jalur Gaza sebelum perang, kondisi masjid-masjid sungguh memilukan. Seperti dilaporkan Reuters pada Kamis, 19 Februari 2026, kubah Masjid al-Hassaina kini hancur dan hanya bertumpu di atas timbunan puing. Halaman masjid yang dulunya digunakan para jemaah berkumpul untuk salat dan bersilaturahmi, kini telah berubah fungsi menjadi tempat keluarga-keluarga tidur dan memasak di antara reruntuhan. Jemuran pakaian juga memenuhi bekas halaman masjid tersebut, menandai hilangnya ruang sakral.
Sami al-Hissi, seorang sukarelawan berusia 61 tahun di masjid itu, mengungkapkan kepedihannya. "Saya tidak tahan melihatnya," ucapnya sambil berdiri di atas puing-puing yang dulunya menjadi tempat jemaah berdiri berdampingan untuk salat. "Dulu kami salat dengan nyaman. Dulu kami bertemu teman-teman, orang-orang tercinta. Sekarang, tidak ada orang tercinta, tidak ada teman, dan tidak ada masjid," tambahnya dengan suara lirih.
Anak-anak dan Wanita di Tengah Kehancuran
Di sekitar reruntuhan, anak-anak terlihat memanjat kubah masjid yang retak, sementara para wanita sibuk mengumpulkan cucian yang tergantung di antara tiang-tiang yang patah. Al-Hissi menuturkan bahwa sebelum perang, masjid tersebut menarik jemaah dari berbagai lingkungan sekitar, termasuk Shejaiya dan Daraj, terutama selama Ramadan. "Biasanya masjid dipenuhi ribuan orang. Tetapi sekarang, di mana mereka harus menunaikan salat? Semuanya tinggal puing dan reruntuhan. Hampir tidak ada cukup ruang untuk 100 orang," keluhnya.
Dampak Serangan Israel yang Meluas
Israel melancarkan serangan udara dan darat di Jalur Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina telah tewas akibat rentetan serangan militer Tel Aviv sejauh ini. Kantor media pemerintah Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel telah menghancurkan setidaknya 835 masjid dan merusak sebagian 180 masjid lainnya di daerah kantong Palestina itu. Tidak hanya masjid, gempuran-gempuran Israel juga menargetkan gereja-gereja di Jalur Gaza dan menghancurkan 40 dari 60 pemakaman yang ada.
Militer Israel dalam pernyataannya berdalih menargetkan infrastruktur militan dan menuduh kelompok bersenjata Palestina beroperasi di area-area sipil, termasuk di masjid-masjid. Namun, tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh kelompok Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, menambah kompleksitas konflik yang berlarut-larut.
Kehilangan Spiritual dan Komunal
Bagi banyak warga Palestina, kehilangan yang mereka alami tidak hanya bersifat material, tetapi juga spiritual dan komunal. Khitam Jabr, salah satu pengungsi yang kini tinggal di area masjid, mengungkapkan kekecewaannya. "Kami berharap bisa menyambut Ramadan dalam suasana yang berbeda," ucapnya. "Kami tidak memiliki cukup masjid. Semua masjid hancur dan tidak ada tempat untuk beribadah. Sekarang kami beribadah di tenda-tenda, dan masjid-masjid menjadi pusat bagi para pengungsi," sebutnya dengan nada sedih.
Upaya Membangun Kembali di Tengah Keterbatasan
Meskipun dilanda kehancuran dan kekurangan material, warga Palestina tidak menyerah. Menurut Amir Abu al-Amrain, direktur kementerian urusan keagamaan di Kota Gaza, upaya membangun kembali tempat ibadah terus dilakukan. "Sebanyak 430 tempat ibadah telah dibangun kembali, beberapa menggunakan terpal plastik dari rumah kaca, beberapa terbuat dari kayu, dan beberapa dibangun dengan terpal plastik dari tenda," ucapnya. Upaya ini menunjukkan ketahanan spiritual di tengah kondisi yang sangat sulit, dengan warga berusaha mempertahankan tradisi Ramadan meski dalam keterbatasan.
Ramadan tahun ini di Gaza menjadi saksi bisu bagaimana perang tidak hanya merenggut nyawa dan rumah, tetapi juga merusak sendi-sendi kehidupan beragama dan komunitas. Warga Palestina terus berjuang untuk menjaga iman di tengah reruntuhan, dengan harapan suatu hari nanti dapat kembali beribadah dalam kedamaian dan keutuhan.



