Dalam tradisi Kristiani, perayaan Paskah kerap dipahami sebagai kemenangan atas maut secara personal dan spiritual. Namun, jika kita menyelami lebih dalam narasi yang terbentang dari Getsemani hingga Makam Kosong, tersirat sebuah pesan kosmologis yang jauh lebih luas dan mendesak, yaitu pemulihan alam semesta secara menyeluruh.
Krisis Iklim dan Panggilan untuk Pertobatan Radikal
Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin menggerogoti eksistensi hayati di bumi, umat manusia ditantang untuk melakukan Metanoia Ekologis. Konsep ini merujuk pada pertobatan radikal yang mengubah secara fundamental cara kita memandang dan memperlakukan bumi. Istilah metanoia sendiri berasal dari kata Yunani metanoein, yang secara harfiah berarti berbalik arah 180 derajat.
Paradigma Baru: Dari Komoditas ke Sesama Ciptaan
Dalam konteks ekologis, metanoia ini mengimplikasikan pergeseran paradigma yang mendasar. Kita diajak untuk tidak lagi memandang alam semata-mata sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai sesama ciptaan yang memiliki martabat dan hak untuk dijaga. Perubahan perspektif ini dianggap penting untuk merespons tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Dr. Josep Ferry Susanto, Pr., dalam sebuah rekoleksi yang diselenggarakan untuk para imam di Grha Pemuda Katedral, Jakarta, pada tanggal 1 April 2026, menghadirkan perspektif yang sangat menarik dan reflektif mengenai metanoia ekologis. Ia menautkan konsep ini secara mendalam dengan kisah-kisah dalam kitab suci serta panggilan akan pertobatan yang bersifat integral, tidak hanya secara spiritual tetapi juga ekologis.
Refleksi Paskah dan Implikasinya bagi Lingkungan
Refleksi yang disampaikan oleh Dr. Susanto menekankan bahwa narasi Paskah—dari penderitaan di Getsemani hingga kebangkitan di Makam Kosong—membawa pesan tentang pembaruan dan pemulihan yang mencakup seluruh ciptaan. Pesan ini menjadi relevan dalam konteks saat ini, di mana degradasi lingkungan memerlukan respons yang transformatif.
Dengan demikian, metanoia ekologis tidak hanya sekadar ajakan moral, tetapi sebuah keharusan untuk memastikan keberlanjutan kehidupan di bumi. Melalui pertobatan radikal ini, diharapkan dapat tercipta harmoni baru antara manusia dan alam, sesuai dengan visi pemulihan alam semesta yang diwartakan dalam perayaan Paskah.



