Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) pertama dan seminar Perkumpulan Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI) di Auditorium Perpusnas RI, Jakarta, pada Rabu (29/4/2026). Acara ini mengusung tema "Budaya Warisan Hidup: Menuju Peradaban Nusantara Berkelanjutan Masa Depan" dan dihadiri oleh pengurus serta anggota PEWIBI dari berbagai daerah di Indonesia.
Potensi Besar Wisata Budaya Indonesia
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengapresiasi kehadiran PEWIBI sebagai mitra strategis yang sejalan dengan visi Kementerian Kebudayaan. Ia menegaskan pentingnya amanat Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang mewajibkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Fadli menyoroti potensi besar wisata budaya Indonesia, mulai dari lukisan purba tertua di dunia hingga berbagai cagar budaya dan warisan hidup yang tersebar di seluruh Nusantara. Kekayaan ini tercermin dari 2.723 warisan budaya takbenda yang tercatat secara nasional, dengan 16 di antaranya telah diakui UNESCO.
Ekonomi Budaya dan Kolaborasi Lintas Sektor
Fadli menjelaskan bahwa wisata budaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Ia mencontohkan pengelolaan Istana Versailles di Prancis yang mampu menghasilkan sekitar 30 miliar rupiah per hari dari penjualan tiket, belum termasuk pendapatan dari merchandise. "Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi melalui pengembangan cultural economy dan industri kreatif," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).
Menurut Fadli, pembangunan kebudayaan memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan media. Pemerintah membuka peluang kemitraan publik-swasta untuk revitalisasi situs budaya. "Ada juga situs-situs budaya kita yang didukung dan dibantu oleh pihak swasta, oleh korporasi, bahkan oleh individu-individu filantropis yang cinta kepada budaya," jelasnya.
Transformasi Situs Budaya Menjadi Warisan Hidup
Fadli mendorong transformasi situs budaya agar tidak hanya menjadi monumen statis, tetapi berkembang sebagai warisan hidup yang relevan dan berdaya guna bagi masyarakat. Melalui kerja sama dengan para pengusaha di bidang wisata, budaya akan menghasilkan simbiosis mutualisme. "Pembangunan kebudayaan tak mungkin dijalankan oleh pemerintah sendiri. Ekosistem kebudayaan yang sehat membutuhkan kolaborasi di lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, BUMN, dunia usaha, swasta, korporasi, media, akademisi, dan komunitas," tegasnya.
Komitmen PEWIBI untuk Wisata Budaya
Ketua Umum sekaligus pendiri PEWIBI, Irlisa Rachmadiana, menyampaikan bahwa organisasi yang diresmikan pada 30 Desember 2025 ini memiliki visi membantu pemerintah memajukan wisata berbasis budaya Indonesia melalui kemampuan dan swadaya anggotanya. "Jaringan organisasi ini telah tersebar dari Aceh hingga Papua, serta memiliki perwakilan di tiga benua, yaitu Amerika, Eropa, dan Asia. PEWIBI terus berkomitmen sebagai organisasi non-politis yang menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika," jelasnya.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana; Pendiri II dan Dewan Pengawas PEWIBI, Wahyuni Sutantri; Sekretaris Jenderal PEWIBI, Ira Damayanti, serta segenap jajaran PEWIBI. Di akhir acara, PEWIBI menganugerahkan penghargaan Tokoh Kebudayaan 2026 kepada Fadli Zon sebagai apresiasi atas dedikasinya di bidang kebudayaan.



