Fadli Zon Cek Nasib Rumah Radio Bung Tomo yang Hilang ke Balai Pelestarian Budaya
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan ke Balai Pelestarian Kebudayaan terkait hilangnya Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya. Hal ini menanggapi pertanyaan Presiden Prabowo Subianto yang mempertanyakan keberadaan bangunan bersejarah tersebut.
Pengecekan Dilakukan, Respons Masih Ditunggu
"Kita sudah cek dari Balai Pelestarian Kebudayaan, nanti kita akan bagaimana meresponsnya begitu," kata Fadli Zon seusai penganugerahan Profesor Kehormatan di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026). Kendati demikian, dia belum menerangkan lebih lanjut hasil pengecekan tersebut dan meminta publik menunggu proses tindak lanjut dari Balai Pelestarian Kebudayaan.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya sempat mempertanyakan keberadaan stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) atau Rumah Radio yang digunakan Bung Tomo saat pertempuran 10 November. Kini, bangunan itu hanya tinggal kenangan setelah dibongkar pada 2016 dan dipastikan telah rata dengan tanah pada Selasa (3/5).
Kondisi Memprihatinkan di Lokasi Bekas Bangunan
Dilansir dari pantauan di lokasi, bangunan bersejarah yang berada di Jalan Mawar Nomor 10, Surabaya, itu sudah tak lagi menyerupai bentuk aslinya. Lahan bekas Rumah Radio Bung Tomo kini telah berdiri bangunan baru bercat putih dengan pagar tinggi berwarna coklat dan ujung runcing.
Dari luar, rumah tampak tertutup rapat dan hanya atap serta bagian atas yang terlihat dari jalan. Tidak tampak nomor rumah, plakat cagar budaya, maupun penanda sejarah lainnya yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut pernah menjadi situs perjuangan penting.
Peran Penting dalam Sejarah Perjuangan
Padahal, di tempat inilah Bung Tomo bersama para pemuda Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) pernah menyalakan api perlawanan. Melalui stasiun radio mobile berukuran kurang lebih sebesar kulkas, Bung Tomo menyebarkan semangat juang kepada arek-arek Surabaya untuk melawan penjajah.
Bangunan tersebut juga sempat menjadi markas para pejuang sebelum akhirnya diketahui musuh, sehingga mereka berpindah ke Jalan Biliton. Meski hanya ditempati kurang dari sebulan, peran rumah ini tercatat kuat dalam sejarah Indonesia.
Riwayat Serangan dan Akhir yang Menyedihkan
Melansir buku memoar Sulistina Sutomo berjudul 'Bung Tomo Suamiku' (2008), rumah di Jalan Mawar Nomor 10 bahkan pernah menjadi sasaran serangan. Dikisahkan, pesawat penjajah meluncurkan mortir saat melintas di atas bangunan itu, memaksa para pejuang berhamburan menyelamatkan diri.
Beruntung, bom dan peluru meleset sehingga bangunan tersebut selamat kala itu. Namun, nasib berbeda menanti di masa depan. Rumah Radio Bung Tomo akhirnya dibongkar pada 2016, menghilangkan salah satu saksi bisu perjuangan kemerdekaan yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.