Matahari pagi mulai menyingsing di ufuk timur, menyambut perayaan Idul Adha di Kota Depok, Jawa Barat. Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) yang terletak di dekat Gereja Bethel Indonesia, Jalan Kamboja, Pancoran Mas, menjadi saksi bisu tingginya nilai toleransi antarumat beragama di kota tersebut.
Ribuan Jamaah Hadir Sejak Pagi
Sejak pukul 06.00 WIB, Rabu (27/5/2026), warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa, tampak berbondong-bondong menuju lapangan YLCC. Sajadah dan mukena digenggam erat sebagai persiapan melaksanakan salat Idul Adha. Penyelenggara salat, Diki Wahyu, terlihat sibuk mengatur barisan jamaah yang telah disiapkan panitia. Menjelang pelaksanaan, ribuan orang telah siap mengikuti rangkaian ibadah.
Sejak 1996, Tradisi Toleransi Berlanjut
Diki Wahyu mengungkapkan bahwa penggunaan lapangan YLCC untuk salat Idul Adha sudah dimulai sejak tahun 1996. Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) menjadi salah satu penyelenggara utama. "Pelaksanaan salat Idul Adha sudah dilakukan selama 30 tahun," ujar Diki. Sekitar 3.000 jamaah mengikuti salat dengan khusyuk, mendengarkan ceramah agama yang disampaikan.
Dukungan Penuh dari Pihak Gereja
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari koordinasi yang baik antar pihak. Meski berada di kawasan mayoritas non-muslim, penyelenggaraan berjalan lancar. "Bahkan parkiran untuk kendaraan dari pihak Gereja Bethel Indonesia turut memberikan izin," terang Diki. Hal ini menunjukkan tingginya toleransi masyarakat Depok.
Toleransi Teruji Sejak Kerusuhan 1999
Diki menambahkan bahwa toleransi di wilayah Pancoran Mas sudah terbangun lama. "Ingat tahun 1999, saat Ambon terjadi kerusuhan antara muslim dan non-muslim, di sini tidak ada apa-apa dan kami tetap aman. Bahkan warga non-muslim ikut membantu berjaga saat kami salat Ied," kenangnya. Nilai persaudaraan dan komunikasi yang baik antar pemangku kepentingan menjadi kunci.
Kesan Warga: Toleransi Sejati
Salah seorang jamaah, Lutfi, mengaku sudah dua tahun mengikuti salat Ied di lapangan YLCC. Menurutnya, ada kesan berbeda. "Lihat saja, kami dapat melaksanakan salat Ied meskipun di sekitar kami adalah kawasan non-muslim. Bahkan gereja ikut menyediakan lokasi parkir, seakan mereka membuka pintu dan tersenyum untuk saling menghargai," ucap Lutfi. Ia berharap kerukunan ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain. "Semoga ini menjadi barometer bagaimana kita saling merangkul dan menghargai, inilah toleransi sesungguhnya," pungkasnya.



