Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau dalam rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi di Lampung pada Minggu (28/6/2026). Prosesi ini viral di media sosial dan menuai beragam tafsir dari elite politik.
PDIP Tertawa dengan Prosesi Injak Kepala Kerbau
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira merespons prosesi adat tersebut. Ia mengaku tidak memahami adat istiadat Lampung, apalagi dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau. Andreas tertawa jika hal itu dimaknai sebagai penghinaan terhadap lambang PDIP. Ia menegaskan lambang PDIP adalah banteng moncong putih, bukan kerbau.
"Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha..., maaf, lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih," ujar Andreas.
Andreas juga menilai tidak pantas Jokowi, sebagai simbol pemersatu, dinobatkan menjadi kepala adat atau raja di daerah. Menurutnya, publik akan lebih bangga jika Jokowi mendapat gelar akademik dari negara lain, bukan mainan lokal-lokal seperti mencari dukungan suara.
PSI Pasang Badan Membela Jokowi
Elite PSI membela Jokowi usai prosesi injak kepala kerbau menuai kontroversi. Ketua DPP PSI Bestari Barus menuding PDIP menghina adat dan budaya Lampung. "Saya kira itu menghinakan adat budaya gitu loh. Itu kan menghina prosesi adat budaya Lampung. Tapi mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapinya dengan bijaklah dan semakin mengetahui betapa mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak paham adat Lampung tapi ngomong-ngomong adat Lampung," kata Bestari.
Bestari menjelaskan prosesi injak kepala kerbau merupakan penghargaan dari pimpinan adat Lampung kepada Jokowi. Ritual tersebut telah dilaksanakan sebelum adanya PDIP di republik ini. Ia juga mempertanyakan kredibilitas Andreas yang berani menentukan standar bagi tokoh seperti Jokowi.
Bestari menyarankan PDIP berbenah diri jika merasa ditinggalkan Jokowi, dan meminta Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengajarkan kadernya untuk menghormati adat budaya Indonesia.
Tokoh Adat Ungkap Makna Filosofis Injak Kepala Kerbau
Tokoh adat Lampung Pepadun, Mawardi Harirama, menjelaskan prosesi tersebut merupakan bagian dari tradisi Begawi Cakak Pepadun yang diwariskan turun-temurun. Ritual ini memiliki makna filosofis menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia, seperti sombong, iri dengki, tamak, dan lainnya.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi.
Mawardi juga menepis anggapan bahwa dominasi warna merah di lokasi prosesi terkait kelompok politik tertentu. Ia menegaskan karpet merah merupakan ornamen di Kedatun Keagungan. "Memang di Kedatun Keagungan karpetnya merah semua. Lihat di tangga, di jalan menuju museum, semuanya karpet merah. Jadi bukan ditujukan kepada kelompok tertentu," tegasnya.
Mawardi berharap masyarakat menghormati prosesi adat Lampung sebagai warisan budaya yang bertujuan melestarikan adat dan memperkuat kebudayaan bangsa.



