Open Access Fiber Jadi Strategi Baru, Tarif Internet Indonesia Diproyeksi Turun
Kolaborasi strategis antara Asosiasi Penyedia Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJATEL) dan International Fiber Alliance (IFA) telah resmi diluncurkan untuk mendorong penerapan model Open Access Fiber di Tanah Air. Inisiatif ini diharapkan dapat membuka peluang terciptanya tarif internet yang jauh lebih kompetitif dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.
Mengenal Model Open Access Fiber
Model open access pada dasarnya memungkinkan satu jaringan fiber optik digunakan secara bersama-sama oleh berbagai penyedia layanan internet atau ISP yang berbeda. Dengan pendekatan ini, duplikasi pembangunan infrastruktur dapat diminimalisir secara signifikan, yang pada gilirannya akan menekan biaya investasi yang selama ini menjadi salah satu faktor utama mahalnya harga layanan internet di Indonesia.
Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Swandy, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah penting untuk membangun fondasi infrastruktur digital yang lebih efisien, terbuka, dan berkelanjutan. "Dengan pengalaman 25 tahun IFA di bidang open access global dan platform FOS RevOps yang terbukti, kami yakin dapat membangun fondasi fiber yang lebih terbuka, efisien, dan siap menjawab tantangan digital masa depan," ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan pada Kamis, 8 Januari 2026.
Transformasi Model Bisnis Telekomunikasi
Selama ini, model bisnis telekomunikasi di Indonesia masih banyak mengandalkan pembangunan jaringan secara terpisah oleh masing-masing operator. Akibatnya, biaya investasi menjadi sangat tinggi dan berujung pada harga layanan yang relatif mahal bagi pengguna akhir. Melalui skema Open Access Fiber, kepemilikan infrastruktur akan dipisahkan dari layanan.
Penyedia jaringan dapat fokus membangun dan mengelola fiber optik, sementara ISP cukup menyewa kapasitas yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan mereka. Skema ini dinilai mampu mengurangi pembangunan jaringan berlebih, menurunkan hambatan masuk bagi ISP baru, serta meningkatkan persaingan harga dan kualitas layanan secara keseluruhan.
Dukungan dari International Fiber Alliance
Chief Commercial Officer IFA, Richard Watts, menekankan bahwa open access bukan sekadar solusi teknis semata, melainkan pendekatan ekonomi yang telah terbukti sukses di berbagai negara. "Di seluruh dunia, dari Eropa hingga Afrika hingga Amerika Serikat, kami telah melihat bagaimana jaringan akses terbuka tidak hanya berfungsi sebagai solusi teknis tetapi juga sebagai akselerator ekonomi yang kuat," kata Watts.
Melalui kerja sama ini, APJATEL dan IFA akan berfokus pada beberapa area utama:
- Penyediaan Platform Open Access: Mengintegrasikan platform manajemen Fiber Operating Services RevOps milik IFA, yang merupakan sistem teruji yang telah mengoperasikan jaringan open access terbesar di dunia dengan lebih dari 1 juta pelanggan, ke dalam ekosistem jaringan anggota APJATEL.
- Dukungan Operasional dan Teknis: Menawarkan skema kolaborasi fleksibel, mulai dari layanan fully managed, partially managed, hingga software-only, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing penyedia jaringan.
- Peningkatan Kapasitas dan Keandalan: Melalui sistem monitoring 24/7, Network Operations Center (NOC), dan jaminan kualitas layanan untuk meningkatkan kinerja dan keandalan jaringan secara menyeluruh.
- Penciptaan Model Bisnis Baru: Membuka aliran pendapatan tambahan bagi pemilik infrastruktur melalui skema wholesale dan retail yang lebih terbuka, serta memudahkan lebih banyak ISP untuk beroperasi di atas jaringan fiber yang sama.
Sinkronisasi dengan Agenda Pemerintah
Dorongan terhadap open access fiber juga dinilai sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperluas penetrasi fixed broadband dan meningkatkan kualitas internet nasional, termasuk target kecepatan hingga 100 Mbps dalam beberapa tahun ke depan. Wakil Ketua Umum I APJATEL, M. Tri Prasetya, menyampaikan bahwa kerja sama ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi percepatan penetrasi fiber optic di Indonesia.
"Kerja sama APJATEL dan IFA diharapkan dapat mendukung terwujudnya Indonesia Digital yang lebih maju, merata, dan berdaya saing global," ujarnya. Dengan kolaborasi antarpemilik jaringan dan pendekatan open access, industri berharap internet berkualitas tidak lagi identik dengan harga mahal, sekaligus memperkuat daya saing digital Indonesia di tingkat global.



