Kolaborasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi seluler dinilai menjadi kunci agar anak muda semakin kreatif. Hal ini disampaikan oleh praktisi dan social entrepreneur, Donny Budhi Utoyo, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
AI sebagai Alat Augmentasi, Bukan Substitusi
Menurut Donny yang juga penggiat Internet Sehat, AI dapat membantu anak muda menjadi lebih produktif dan kreatif. Beberapa penelitian menunjukkan AI mempercepat proses mencari informasi, menyusun ide, menulis, hingga menyelesaikan pekerjaan berbasis pengetahuan.
"Namun, ada catatan penting. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan AI yang terlalu pasif dapat membuat ide menjadi lebih seragam dan berpotensi mengurangi latihan berpikir mandiri. Sederhananya, AI bisa membantu menghasilkan lebih banyak ide, tetapi belum tentu membuat ide kita semakin beragam," ujar Donny.
Oleh karena itu, Donny melihat AI sebagai alat augmentasi, bukan substitusi. AI memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada AI, kemampuan kritis dan kreativitas manusia berisiko melemah.
"Saat ini, AI adalah salah satu perkembangan teknologi paling signifikan yang dapat membuka banyak peluang. Kalau melihat sejarah, hampir setiap era memiliki teknologi penting yang mengubah cara manusia hidup dan bekerja. Smartphone membawa layanan digital ke genggaman setiap orang. Kini AI menjadi gelombang berikutnya," jelasnya.
Relevansi Teknologi Seluler bagi Anak Muda
Donny menegaskan bahwa teknologi seluler masih sangat relevan bagi anak muda. Hampir seluruh aktivitas digital generasi muda saat ini berlangsung melalui perangkat seluler, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, menikmati hiburan, hingga membuat konten.
Yang berubah bukan relevansinya, melainkan ekspektasi pengguna. Dulu anak muda mencari sinyal kuat dan kuota murah, kini mereka menginginkan pengalaman digital yang lebih personal, lebih cepat, lebih aman, dan terintegrasi dengan AI.
"Karena itu industri telekomunikasi tidak cukup hanya menjual konektivitas. Nilai tambahnya harus semakin jelas dan harus kian memiliki relevansi yang kuat dengan teknologi di satu sisi, dan gaya hidup di sisi lain," akunya.
Setidaknya ada empat hal yang perlu diperkuat:
- Integrasi AI dan seluler dalam layanan sehari-hari, seperti belajar, produktivitas, pencarian informasi, penerjemahan, pembuatan konten, dan pengembangan keterampilan digital langsung dari ponsel.
- Dukungan terhadap ekonomi kreator, karena banyak anak muda kini menjadi kreator konten, pelaku UMKM, pengembang aplikasi, dan pekerja ekonomi digital.
- Keamanan dan kesejahteraan digital, termasuk perlindungan data pribadi, keamanan digital, dan kesehatan mental pengguna.
- Pengembangan komunitas dan talenta digital, karena anak muda butuh ruang belajar, berkolaborasi, dan membangun jejaring.
Kolaborasi Tri dan Google Gemini
Donny mencontohkan kolaborasi antara Tri dan Google Gemini sebagai salah satu langkah nyata. Melalui kerja sama ini, akses pengguna terhadap AI semakin mudah. Didukung jaringan Indosat 5G, penggunaan Google Gemini lebih lancar.
Pengguna dapat mencari ide, merancang konsep konten, membuat foto menarik, hingga menyusun itinerary liburan personal. Cukup dengan membeli produk isi ulang Happy dari Tri mulai dari Rp10 ribu, pengguna menikmati fitur Google Gemini tanpa biaya langganan tambahan, dengan benefit 400 GB penyimpanan data, membuat gambar dengan Nano Banana Pro, dan akses Gemini 3.1 Pro.
"Banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI ke dalam layanan mereka untuk menjawab kebutuhan generasi muda. Kolaborasi Tri dengan Google Gemini itu baru salah satunya," ungkap Donny.
Masa Depan AI dan Pendidikan
Donny menekankan bahwa tujuan akhirnya bukan membuat anak muda bergantung pada AI, melainkan semakin berdaya. Ia yakin AI akan terus menyasar dunia pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar lebih personal dan interaktif.
"Integrasi AI ke perangkat seluler membuat AI hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga membantu produktivitas. Pemanfaatan AI dalam aplikasi kreatif membantu anak muda membuat konten, riset, dan mengembangkan ide lebih cepat," kata Donny.
"AI kini tidak lagi hadir sebagai teknologi yang berdiri sendiri, karena AI mulai menjadi bagian dari pengalaman digital sehari-hari," imbuhnya.
AI membantu bekerja lebih cepat dan efisien, namun nilai terbesarnya terasa ketika dipadukan dengan kemampuan manusia berpikir kritis, memahami konteks, menghargai keberagaman, dan berempati. Inilah pembeda utama manusia di era digital.
"Maka cepat tidak lagi cukup, mesti juga tepat. AI dapat membantu kita mengetahui apa yang mungkin dilakukan. Tetapi manusia tetap harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan dengan tepat. Pondasinya adalah kebijakan dan kebijaksanaan, yang hingga saat ini masih hanya dapat lahir dari nalar, empati, dan harapan manusia terhadap masa depan," tutup Donny.



