Kemendikti: Dokter Oversupply 2028, Lulusan Keguruan Membludak
Kemendikti: Dokter Oversupply 2028, Lulusan Keguruan Membludak

Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) mengeluarkan peringatan serius terkait proyeksi jumlah dokter di Indonesia yang diperkirakan akan mengalami kelebihan pasokan atau oversupply pada tahun 2028. Di sisi lain, jumlah lulusan dari program studi keguruan juga dinilai sudah membludak, menimbulkan kekhawatiran akan mutu pendidikan dan tenaga pendidik.

Proyeksi Oversupply Dokter

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kemendikti, saat ini terdapat sekitar 200 ribu dokter di Indonesia. Dengan asumsi penambahan lulusan dokter setiap tahunnya mencapai 12 ribu orang, maka pada tahun 2028 jumlah dokter diperkirakan akan melebihi kebutuhan nasional. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah seperti persaingan kerja yang ketat, penurunan kualitas layanan kesehatan, dan pemborosan sumber daya pendidikan.

Menteri Pendidikan Tinggi, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa oversupply ini terjadi karena peningkatan jumlah fakultas kedokteran yang tidak diimbangi dengan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang matang. Banyak universitas membuka program studi kedokteran tanpa mempertimbangkan daya serap pasar kerja. Akibatnya, lulusan dokter kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, terutama di daerah perkotaan yang sudah jenuh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Lulusan Keguruan Membludak

Fenomena serupa juga terjadi pada lulusan program studi keguruan. Data menunjukkan bahwa jumlah lulusan keguruan setiap tahun mencapai lebih dari 100 ribu orang, sementara kebutuhan guru baru hanya sekitar 50 ribu per tahun. Hal ini menyebabkan banyak lulusan keguruan yang tidak terserap di dunia pendidikan formal, atau terpaksa bekerja di luar bidang keahlian mereka.

Kemendikti mencatat bahwa kualitas lulusan keguruan juga perlu ditingkatkan. Banyak lulusan yang belum memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan, terutama dalam hal pedagogik dan penguasaan materi ajar. Oleh karena itu, pemerintah berencana untuk melakukan moratorium pembukaan program studi keguruan baru dan memperketat akreditasi program studi yang sudah ada.

Dampak terhadap Mutu Pendidikan dan Kesehatan

Oversupply tenaga dokter dan guru ini tidak hanya berdampak pada individu lulusan, tetapi juga pada mutu layanan publik. Di bidang kesehatan, kelebihan dokter dapat menyebabkan praktik yang tidak merata, dengan dokter cenderung berkumpul di kota besar dan meninggalkan daerah terpencil. Sementara itu, di bidang pendidikan, banyak guru yang tidak kompeten masih mengajar karena rendahnya standar seleksi.

Kemendikti menekankan pentingnya perencanaan yang lebih baik dalam pembukaan program studi, baik kedokteran maupun keguruan. Pemerintah akan mendorong universitas untuk fokus pada peningkatan kualitas lulusan, bukan sekadar kuantitas. Selain itu, akan ada insentif bagi lulusan yang bersedia ditempatkan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Langkah Antisipasi

Untuk mengatasi masalah ini, Kemendikti telah menyusun beberapa langkah strategis. Pertama, melakukan pemetaan kebutuhan tenaga dokter dan guru secara nasional hingga tingkat kabupaten/kota. Kedua, membatasi pembukaan program studi baru yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Ketiga, memperkuat program beasiswa afirmasi untuk menarik minat mahasiswa dari daerah 3T agar kembali mengabdi di daerah asal.

Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan rumah sakit untuk menyediakan lapangan kerja yang lebih luas. Program internship dan residensi akan diperluas agar lulusan dokter memiliki pengalaman praktik yang cukup sebelum terjun ke masyarakat. Bagi lulusan keguruan, program sertifikasi dan pelatihan berkelanjutan akan diperketat untuk memastikan kompetensi mereka.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan tenaga dokter serta guru dapat tercapai, sehingga mutu layanan kesehatan dan pendidikan di Indonesia semakin baik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga