Associated Press (AP) merilis rekonstruksi serangan rudal Amerika Serikat terhadap sebuah sekolah di Iran, 120 hari setelah insiden tersebut terjadi. Serangan itu terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Sekolah Putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran Selatan. Namun, banyak detail penting masih belum terungkap karena minimnya informasi dari Pentagon.
Misteri Jumlah Amunisi dan Korban
Dua misteri utama yang masih tersisa adalah jumlah pasti amunisi yang menghantam sekolah tersebut dan daftar lengkap korban tewas. AP kesulitan memverifikasi data karena Pentagon tidak memberikan keterangan resmi. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer AS mengenai jumlah rudal yang diluncurkan atau sasaran yang dimaksud.
Menurut sumber lokal yang diwawancarai AP, ledakan terjadi pada pagi hari saat para siswa sedang mengikuti pelajaran. Saksi mata melaporkan mendengar beberapa ledakan berturut-turut, namun tidak dapat memastikan berapa banyak rudal yang mengenai gedung. Sekolah yang hancur itu kini menjadi puing-puing, dan proses identifikasi korban masih berlangsung.
Kurangnya Transparansi Pentagon
AP menyoroti kurangnya transparansi dari Pentagon sebagai penyebab utama ketidakjelasan informasi. Beberapa pejabat AS yang dihubungi menolak berkomentar atau memberikan pernyataan yang bertentangan. Hal ini mempersulit upaya jurnalistik untuk mengungkap kebenaran di balik serangan tersebut.
“Kami telah berulang kali meminta data resmi, namun tidak mendapat respons yang memadai,” demikian pernyataan dari tim investigasi AP. Tanpa akses ke catatan militer, AP hanya bisa mengandalkan kesaksian warga dan analisis forensik dari lokasi kejadian.
Dampak pada Hubungan AS-Iran
Insiden ini menambah ketegangan hubungan antara AS dan Iran. Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut pertanggungjawaban. Sementara itu, AS belum mengakui secara resmi bahwa rudal yang menghantam sekolah itu milik mereka. Beberapa analis memperkirakan bahwa serangan itu mungkin merupakan bagian dari operasi militer yang lebih besar di kawasan tersebut.
Korban jiwa diperkirakan mencapai puluhan orang, sebagian besar adalah siswi dan staf pengajar. Namun, angka pasti belum dapat dipastikan karena proses evakuasi dan identifikasi yang terhambat oleh kerusakan parah. Keluarga korban terus mendesak pemerintah Iran dan organisasi internasional untuk mengusut tuntas kasus ini.
AP berjanji akan terus melakukan investigasi seiring dengan munculnya informasi baru. Rekonstruksi ini diharapkan dapat mendorong transparansi dari pihak militer AS dan memberikan keadilan bagi para korban.



