Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang Disebut Incaran Trump untuk Pimpin Iran
Ghalibaf, Incaran Trump untuk Pimpin Iran?

Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang Disebut Incaran Trump untuk Pimpin Iran

Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, disebut-sebut menjadi incaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai calon mitra dan bahkan pemimpin masa depan Iran. Laporan ini muncul di tengah negosiasi untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran, menimbulkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya Ghalibaf dan perannya dalam politik Iran.

Siapakah Mohammad Ghalibaf?

Lahir di kota Torqabeh di timur laut Iran pada tahun 1961, masa remaja Ghalibaf dibentuk oleh Revolusi Islam 1979 yang dahsyat. Sebagai mantan pilot Angkatan Udara Iran, kariernya melesat dengan memegang beberapa posisi penting dalam struktur pemerintahan. Dia pernah menjabat sebagai kepala polisi, wali kota Teheran, dan sejak 2020, ketua parlemen Iran, menggantikan Ali Larjani.

Ghalibaf juga beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden namun gagal. Dalam pemilihan 2024, dia berada di urutan ketiga setelah Masoud Pezeshkian dan Saeed Jalili, dan lebih dipandang sebagai seorang garis keras dalam politik Iran.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Negosiasi dengan AS dan Penolakan Ghalibaf

Meskipun laporan media AS menunjukkan bahwa Ghalibaf adalah orang di Teheran yang ingin diajak bernegosiasi oleh AS, pemimpin senior itu dengan tegas menyangkal. Pada Senin (23/3/2026), Ghalibaf mengatakan bahwa "tidak ada negosiasi" yang dilakukan dengan Amerika Serikat setelah Trump mengumumkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung.

Dalam sebuah unggahan di X, Ghalibaf mengeklaim bahwa berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel. Dia juga mengejek taktik perang Trump di media sosial, menunjukkan sikap kerasnya terhadap tekanan internasional.

Pandangan Gedung Putih dan Masa Depan Iran

Namun, menurut laporan Politico yang dikutip Anadolu Agency, Selasa (24/3/2026), Ghalibaf dipandang oleh setidaknya beberapa orang di Gedung Putih sebagai mitra yang dapat diandalkan. Dia dianggap mampu memimpin Iran dan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump dalam fase selanjutnya dari perang tersebut.

Seorang pejabat pemerintahan mengatakan, "Dia adalah pilihan yang menarik... Dia salah satu yang paling berpengaruh. Tapi kita harus mengujinya, dan kita tidak bisa terburu-buru." Para pejabat menekankan bahwa Gedung Putih belum siap untuk berkomitmen pada satu orang pun, menunjukkan kompleksitas situasi.

Donald Trump sendiri mengatakan pada Senin (23/3/2026) bahwa akan ada "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran. Dia menambahkan bahwa perubahan telah dimulai karena kepemimpinan sebelumnya telah hancur, dan AS berurusan dengan orang-orang yang "sangat masuk akal, sangat solid."

Dengan latar belakang ini, posisi Ghalibaf sebagai ketua parlemen dan figur garis keras menjadikannya tokoh kunci dalam dinamika politik Iran dan hubungan dengan AS. Masa depan negosiasi dan kepemimpinan Iran masih terbuka, dengan Ghalibaf mungkin memainkan peran sentral dalam bulan-bulan mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga