Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Bennett menyatakan bahwa Netanyahu tidak mampu memimpin pemerintahannya sendiri karena terlalu dikendalikan oleh menteri-menteri garis keras dalam kabinetnya, serta kelompok Yahudi ultra-Ortodoks (Haredim). Kritik ini disampaikan Bennett dalam wawancara dengan penyiar Lebanon-Australia, Mario Nawafal, pada Selasa (30/6) waktu setempat, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (1/7/2026).
Menteri Garis Keras Kendalikan Netanyahu
Dalam wawancara tersebut, Bennett secara spesifik menyebut Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, sebagai figur yang terlalu mendominasi Netanyahu. "Dia (Netanyahu) tidak mampu memimpin pemerintahannya sendiri, karena Ben-Gvir dan Smotrich, dan kelompok Haredim, mereka semua mengendalikan dirinya," ujar Bennett. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah mengizinkan orang-orang seperti Ben-Gvir dan Smotrich duduk di pemerintahannya, dan jika ada menteri yang mengeluarkan pernyataan konyol, ia akan meminta mereka untuk tertib. Namun, Bennett menilai Netanyahu tidak bisa melakukan hal tersebut karena bergantung pada dukungan mereka.
Posisi Internasional Israel Merosot Akibat Ulah Pemerintah Sendiri
Bennett juga menyoroti merosotnya posisi internasional Israel. Menurutnya, kemerosotan itu bukan disebabkan oleh media yang bias atau propaganda luar, melainkan akibat ulah pemerintah Israel sendiri. "Para menteri dalam kabinet Netanyahu saat ini terus-menerus mencederai citra Israel dengan tindakan mereka sendiri, sedangkan negara Israel tidak melakukan diplomasi publik," jelas Bennett. Ia menambahkan bahwa perang berkepanjangan di Jalur Gaza, Lebanon, dan front Iran bertentangan dengan doktrin militer Israel dan telah menguras kekuatan negara.
Perang Berlarut-larut Menguras Ekonomi dan Pasukan Cadangan
Bennett memperingatkan bahwa perang yang berlarut-larut tidak sesuai dengan doktrin Israel. "Jika kita harus berperang, lakukannya dengan cepat dan secara intensif, raih kemenangan lalu beralih untuk menstabilkan kawasan. Ketika perang berlarut-larut dalam waktu yang begitu lama, hal tersebut menguras ekonomi dan tenaga pasukan cadangan kita," ucapnya. Bennett, yang menjabat sebagai PM Israel periode 2021-2022, merupakan salah satu tokoh oposisi yang menentang pemerintahan Netanyahu.



