Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid (HNW), menyatakan dukungannya terhadap perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang diprakarsai oleh Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi. Ia juga mengingatkan agar perjanjian yang ditandatangani secara terbuka oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian itu benar-benar dilaksanakan oleh semua pihak sesuai tahapan yang disepakati.
Apresiasi terhadap Prakarsa Perdamaian
"Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani, walau terus berusaha 'dirusak' oleh Israel dengan manuvernya yang masih tak henti menyerang Lebanon. Sikap Amerika Serikat juga sangat baik bila tidak hanya mengkritisi laku Israel tersebut, tapi benar-benar menghentikannya untuk tercapainya perdamaian dan terhindarkannya dunia termasuk AS dari krisis politik dan ekonomi," kata HNW melalui keterangannya, Jumat (19/6/2026).
Kewaspadaan terhadap Manuver Israel
HNW menekankan agar para pihak mewaspadai manuver Israel yang berusaha menggagalkan perjanjian dengan terus melakukan aksi militer di Lebanon. Menurutnya, hal itu penting agar dunia terhindar dari krisis, ancaman perang dunia ketiga, serta dapat memulihkan perekonomian dunia akibat penutupan Selat Hormuz.
Ia berharap semua pihak aktif mengingatkan AS dan lainnya untuk konsisten menjalankan perjanjian perdamaian. "Jangan malah seperti Israel yang masih terus melanggar gencatan senjata dengan melakukan tindakan militer dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, padahal mereka sudah menyetujui perdamaian, agar perdamaian dan stabilitas kawasan yang diinginkan oleh AS dan masyarakat dunia bisa benar-benar terwujud," lanjutnya.
Harapan Pemulihan Ekonomi dan Stabilitas
Lebih lanjut, HNW berharap perjanjian damai AS-Iran ini dapat mengakhiri perang dengan menghadirkan perdamaian sejati dan segera memulihkan perekonomian dunia, termasuk di Indonesia, akibat penutupan Selat Hormuz selama perang. "Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, penting juga bisa segera menurunkan harga minyak dunia yang sangat membebani banyak negara, termasuk Indonesia," katanya.
Fokus pada Gaza dan Palestina
HNW menegaskan bahwa meski perjanjian hanya menyebut Lebanon sebagai titik sentral di luar AS-Iran yang juga berlaku perdamaian, untuk menghadirkan stabilitas dan keamanan kawasan, upaya menghentikan perang Israel atas Gaza dan Palestina harus dipentingkan. Ia juga menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina yang telah diakui oleh lebih dari 153 negara anggota PBB harus kembali difokuskan.
"Memang Gaza/Palestina tidak disebut dalam perjanjian tersebut, tetapi penting diingatkan, dengan berhentinya perang AS versus Iran itu maka perjanjian damai yang hentikan tragedi di Gaza/Palestina penting segera bisa diwujudkan juga, karena selama terjadinya perang AS dan Iran, Israel malah memanfaatkan kondisi beralihnya perhatian dunia itu untuk tidak melaksanakan kesepakatan gencatan senjata," tegasnya.
"Israel justru malah semakin brutal melakukan kejahatan atas Gaza dan memperluas kejahatannya di West Bank dan Masjid Al Aqsha, ini harus kembali menjadi titik sentral perhatian dunia, agar terciptalah stabilitas kawasan dan hadirlah perdamaian dengan kemerdekaan Palestina," imbuhnya.
Peran Indonesia dan Seruan kepada AS
Oleh karena itu, HNW berharap dengan berakhirnya konflik AS-Iran, dunia bisa fokus menghentikan kejahatan Israel, memperjuangkan kondisi Gaza, hingga terwujudnya kemerdekaan Palestina. "Pemerintah Indonesia juga bisa terus memainkan peran penting politik luar negerinya untuk terciptanya perdamaian dunia dan merdekanya Palestina, di samping tetap fokus mengatasi masalah-masalah domestik di Indonesia," tuturnya.
Apalagi, lanjut HNW, dengan adanya perjanjian damai yang ditandatangani Presiden AS dan Iran, serta respons Israel yang tidak sejalan dengan nota perjanjian penghentian perang dengan masih menyerang Lebanon, semakin membuktikan kepada Presiden Donald Trump dan para pemimpin negara-negara Barat yang selama ini membabi buta mendukung Israel bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan rezimnya justru membahayakan ekonomi dan keamanan dunia, serta merugikan kepentingan AS baik di tingkat domestik maupun internasional.
"Maka bila Israel tetap saja bersikap yang tidak sesuai dengan perjanjian perdamaian dengan terus melancarkan serangan militer baik terkait Lebanon maupun Gaza/Palestina, agar khususnya AS tak lagi mempergunakan hak vetonya membela Israel, agar hukum internasional yang terus ditabrak oleh Israel dapat ditegakkan, agar perdamaian mendasar dapat diwujudkan dengan dihentikannya tragedi kemanusiaan di Gaza/Palestina, bahkan dengan diakuinya kemerdekaan Palestina," pungkasnya.



