DPR Minta Evaluasi Pelatihan Kopdes Usai 2 Peserta Wafat
DPR Minta Evaluasi Pelatihan Kopdes Usai 2 Peserta Wafat

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta Kementerian Pertahanan dan TNI untuk mengevaluasi Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Permintaan ini menyusul meninggalnya dua peserta dalam program tersebut.

TB Hasanuddin mengaku telah menerima informasi bahwa kedua peserta meninggal dunia akibat sakit dan heat stroke. "Satu karena sakit, yang kedua karena heat stroke ya. Jadi kalau menurut hemat saya harus dievaluasi," kata TB Hasanuddin di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (24/6). Ia menekankan evaluasi harus mencakup pemeriksaan kesehatan bagi calon peserta yang akan mengikuti latihan tersebut.

Prioritas Materi Manajemen Koperasi

Menurut TB Hasanuddin, calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan boleh saja mendapatkan materi dasar militer. Namun, ia mengingatkan bahwa materi pengelolaan koperasi jauh lebih penting. "Mungkin materinya sajalah, ya. Materinya saja. Kemiliteran dalam konteks seperti militer, latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, ya dikurangi. Lebih baik diberikan ya pelatihan tentang manajemen sebuah koperasi," katanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kementerian Pertahanan sebelumnya mengonfirmasi kabar duka di tengah pelatihan calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan. Kemhan menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026.

Dua Korban Meninggal Terpisah

Kedua korban meninggal secara terpisah saat mengikuti Latsarmil di satuan pendidikan TNI. Peserta atas nama Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni. Kemhan menyatakan korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, kematian korban Anisa disebabkan oleh paparan cuaca panas berlebih atau heat stroke.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke," kata Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6).

Sementara itu, peserta bernama Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni lalu. Kemhan juga menyatakan korban telah mendapatkan penanganan oleh tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Rico mengatakan berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat henti jantung atau cardiac arrest.

Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Pelatihan

Kemhan menegaskan bahwa sebelum pelatihan di fasilitas militer masing-masing dilakukan, para peserta telah diseleksi dan menjalani pemeriksaan kesehatan. "Perlu disampaikan bahwa sebelum mengikuti program, kedua peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti rangkaian pendidikan," kata Rico.

Insiden ini memicu perdebatan tentang perlunya pelatihan militer bagi pengelola koperasi desa. TB Hasanuddin menekankan bahwa fokus utama program seharusnya pada pengembangan keterampilan manajerial koperasi, bukan pada latihan fisik yang berisiko tinggi. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga