Sinyal Kontradiktif AS-Iran soal Akhir Konflik, Saling Serang dan Bantah
Sinyal Kontradiktif AS-Iran soal Akhir Konflik

Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang terkait akhir dari konflik yang berkepanjangan. Kedua negara saling melontarkan pernyataan yang kontradiktif, bahkan saling menyerang di depan publik.

Klaim AS Soal Nota Kesepahaman

Sumber-sumber pejabat AS mengklaim bahwa negosiator kedua negara telah mencapai nota kesepahaman sementara. Kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan kerangka kerja untuk perundingan nuklir. Namun, klaim ini masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump untuk diumumkan secara resmi.

Menurut sumber AS yang mengetahui proses negosiasi, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency pada Jumat (29/5/2026), nota kesepahaman telah tercapai. Namun, Trump menginginkan waktu tambahan sebelum mengambil keputusan akhir. Laporan media terkemuka AS, Axios, juga mengutip sumber-sumber AS yang menyebut Trump belum memberikan persetujuan akhir, meskipun sebagian besar persyaratan telah diselesaikan oleh para negosiator.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pertimbangan Trump

Laporan tersebut menyebutkan bahwa para negosiator AS telah memberi pengarahan kepada Trump tentang proposal tersebut. Namun, presiden meminta waktu tambahan sebelum mengambil keputusan. "Presiden menyampaikan kepada para mediator bahwa dia ingin beberapa hari untuk memikirkannya," kata seorang pejabat AS seperti dikutip oleh Axios.

Para pejabat AS yang dikutip Axios mengatakan bahwa negosiator Iran kemudian memberitahu para mediator bahwa mereka telah memperoleh persetujuan yang diperlukan dan siap untuk menandatangani perjanjian. Namun, Teheran belum secara terbuka mengonfirmasi klaim ini.

Menurut sumber-sumber AS tersebut, kerangka kerja awal perjanjian akan mencakup janji Iran untuk tidak mengupayakan senjata nuklir dan memulai diskusi tentang penyerahan pasokan uranium yang diperkaya tinggi. Iran juga akan membuka kembali Selat Hormuz dan mulai menyingkirkan ranjau laut yang dipasang di jalur perairan strategis tersebut.

Selama periode 60 hari yang diusulkan, Washington akan mulai melonggarkan sanksi, termasuk pembatasan ekspor minyak Iran, sembari membahas pencairan dana Iran yang dibekukan. Militer AS akan mengakhiri blokade laut terhadap Iran, dan pemerintahan Trump akan berupaya mengakhiri perang di Lebanon antara Israel dan Hizbullah.

Iran Bantah Nota Kesepahaman dengan AS Capai Tahap Finalisasi

Iran menyampaikan bantahan tegas atas laporan media yang mengutip sumber-sumber pejabat AS. Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Teheran. Sumber tersebut menepis laporan yang menyebut nota kesepahaman telah mencapai tahap finalisasi.

Laporan Tasnim menyebutkan bahwa sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengindikasikan laporan media Barat tersebut "tidak mencerminkan kenyataan". Dikatakan bahwa "draf belum mencapai finalisasi". Iran belum memberitahu mediator Pakistan, yang terlibat dalam perundingan tidak langsung dengan AS, bahwa draf akhir untuk nota kesepahaman telah difinalisasi dan disepakati.

"Jika draf akhir tersebut benar-benar telah difinalisasi, Iran akan mengumumkan hal tersebut kepada mediator Pakistan dan publik. Hingga saat itu, klaim apa pun dari sumber-sumber Barat bahwa masalah ini telah mencapai finalisasi, tidak dapat dipercaya," tegas sumber tersebut.

AS Tutup Akses Maskapai Iran

Sinyal untuk mengakhiri konflik juga semakin jauh. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan Washington tidak akan membatasi pergerakan terkait alasan keagamaan, saat mengumumkan langkah terbaru AS menutup akses pendaratan untuk maskapai-maskapai Iran sebagai bentuk kampanye tekanan ekonomi.

Bessent, seperti dilansir AFP dan New York Post pada Jumat (29/5/2026), memastikan bahwa warga negara Iran yang ingin terbang ke Makkah atau Madinah di Arab Saudi untuk ibadah Haji atau umrah dengan maskapai Teheran akan diizinkan. Dalam pernyataan via media sosial X pada Kamis (28/5), Bessent mengumumkan AS akan menghentikan akses maskapai Iran ke tempat pendaratan, pengisian bahan bakar, dan penjualan tiket.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Bessent menyebut langkah tersebut diambil saat Departemen Keuangan AS melanjutkan "kampanye kemarahan ekonomi terhadap rezim Iran" untuk meningkatkan tekanan dan membuka Selat Hormuz. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Bessent mengatakan akan ada pengecualian terbatas dan AS tidak akan membatasi pergerakan karena alasan keagamaan.

Iran Minta Israel Dilenyapkan

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengecam keras pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap komandan senior Hamas di Jalur Gaza. IRGC memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah tidak akan mengalami perdamaian kecuali Israel dilenyapkan sepenuhnya.

Dalam pernyataannya, seperti dilansir Press TV pada Jumat (29/5), IRGC mengutuk pembunuhan Mohammed Odeh dan Ezzeddin al-Haddad oleh Israel. Keduanya adalah komandan senior sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam. Odeh dilaporkan tewas bersama istri dan ketiga anaknya akibat serangan Israel di Kota Gaza.

IRGC menyebut kematian mereka "sekali lagi mengungkapkan sifat predator dan jahat dari rezim Zionis". IRGC menegaskan bahwa kawasan tersebut "tidak akan mengalami perdamaian sampai rezim jahat dan pembunuh anak-anak ini dilenyapkan dari muka Bumi".

Hamas mengonfirmasi kematian Odeh akibat serangan udara Israel pada Rabu (27/5). Odeh adalah tokoh kunci di Brigade Ezzedine al-Qassam, baru menjabat beberapa hari menggantikan Al-Haddad yang tewas pada 15 Mei lalu. IRGC juga mengkritik rencana perdamaian Gaza yang diumumkan Trump, menyebutnya tidak efektif dan berbahaya.

Trump Klaim Pegang Semua Kartu

Sementara itu, Trump mengatakan bahwa meskipun Iran adalah negosiator yang "sangat bagus", militer Teheran yang hancur memberikan Washington alat tawar-menawar. "Mereka mahir, tetapi pada akhirnya, kita memiliki semua kartu karena kita telah mengalahkan mereka secara militer," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Lara Trump, menantu Trump, menjadi host program tersebut. Wawancara dijadwalkan tayang pada Sabtu (29/5) waktu AS. Trump mengklaim Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran hancur 100 persen. "Setiap kapal -- mereka memiliki 159 kapal, semuanya berada di dasar laut," ucapnya.

Trump memperingatkan bahwa kesepakatan yang tidak menguntungkan AS adalah batas yang tidak boleh dilanggar Iran. "Kesepakatan yang tidak menguntungkan kita adalah batasnya, pada akhirnya," cetusnya. "Saya membiarkan situasinya berkembang, dan kita akan melihat," kata Trump.