Setidaknya 40 orang tewas dalam sebuah ledakan dahsyat yang terjadi di sebuah bangunan di wilayah timur laut Myanmar pada Minggu, 31 Mei 2026. Bangunan tersebut dilaporkan digunakan untuk menyimpan bahan peledak yang biasa dipakai dalam aktivitas pertambangan.
Lokasi dan Kronologi Kejadian
Ledakan terjadi di Desa Kaungtup, Kecamatan Namhkam, yang berjarak sekitar tiga kilometer dari perbatasan China. Tim penyelamat melaporkan bahwa sekitar 70 orang lainnya mengalami luka-luka akibat peristiwa ini.
Wilayah tersebut saat ini dikuasai oleh Ta'ang National Liberation Army (TNLA), sebuah kelompok bersenjata berbasis etnis yang kerap terlibat bentrok dengan pemerintah Myanmar. Sejak kudeta militer pada 2021 yang menggulingkan pemerintahan demokratis Aung San Suu Kyi, Myanmar terus dilanda perang saudara. Junta militer menghadapi perlawanan dari berbagai kelompok pro-demokrasi dan kelompok bersenjata etnis.
Informasi Terkini Korban dan Kerusakan
Hingga saat ini, belum ada angka pasti mengenai jumlah korban jiwa. Tim penyelamat yang dikutip oleh Associated Press menyebutkan angka antara 40 hingga 46 orang tewas, termasuk anak-anak. Sementara itu, AFP melaporkan kisaran korban antara 46 hingga 59 orang. Media lokal Myanmar, termasuk Shwe Phee Myay di Negara Bagian Shan, menyebutkan jumlah korban tewas antara 50 hingga 55 orang.
Ledakan juga mengakibatkan kerusakan parah pada banyak rumah di sekitar lokasi. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap korban yang diduga tertimbun reruntuhan. Rumah Sakit Namhkam melaporkan kekurangan pasokan darah untuk menangani para korban luka.
Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa ledakan menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka serta kerusakan bangunan yang parah. Berdasarkan penyelidikan awal, ledakan terjadi di lokasi penyimpanan bahan peledak yang digunakan untuk aktivitas pertambangan.
Tanggapan Kelompok Bersenjata
Dalam pernyataan resmi melalui Telegram, TNLA membenarkan bahwa departemen ekonominya menyimpan gelignite, bahan peledak kuat, untuk keperluan pertambangan dan peledakan batu. TNLA menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh.
Gelignite merupakan bahan peledak yang umum digunakan dalam industri pertambangan. Namun, senyawa kimia di dalamnya dapat menjadi tidak stabil jika penyimpanannya tidak tepat dalam jangka waktu lama.
TNLA adalah bagian dari aliansi bersenjata Three Brotherhood Alliance yang memperjuangkan hak otonomi lebih besar bagi kelompok etnis. Wilayah Namhkam telah dikuasai kelompok tersebut sejak serangan besar-besaran terhadap militer Myanmar pada akhir 2023. Meskipun TNLA sempat menandatangani gencatan senjata dengan militer Myanmar pada Oktober lalu setelah mediasi China, ketegangan masih terus berlanjut.



